Anakpondok.com - Shalat Isbal Berdosa Tapi Tidak Batal
Kadang kita dapati orang yang shalat dengan keadaan isbal, yaitu menjulurkan kain (baik sarung atau celana) melebihi mata kaki. Bagaimana penjelasan para ahli ilmu mengenai shalat orang yang isbal? Sah atau tidak shalatnya? Mari kita simak penjelasan beberapa ahli ilmu mengenai hal ini.
Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahumullah menjelaskan,
قَالَ الْخِطَابِيْ: رَخَّصَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ فِي السَّدَلِ فِيْ الصَّلَاةِ رَوَى ذَلِكَ عَنْ عَطَاء وَمَكْحُوْل وَالزُّهْرِى وَالْحَسَن وَابْنُ سِيْرِيْن وَمَالِك قَالَ وَيُشْبِهُ أَنْ يَكُوْنُوْا فَرَقُوْا بَيْنَ أَجَازَتْهُ فِيْ الصَّلَاةِ دُوْنَ غَيْرِهَا لِاَنَّ الْمُصَلِّي لَا يَمْشِى فِيْ الثَّوْبِ وَغَيْرِهِ يَمْشِى عَلَيْهِ وَيُسَبِّلُهُ وَذَلِكَ مِنَ الْخُيَلَاءِ الْمَنْهِي عَنْهُ وَكَانَ الثَّوْرِي يُكْرِهُ السَّدَلَ فِيْ الصَّلَاةِ وَكَرِهَهُ الشَّافِعِي فِيْ الصَّلَاةِ وَغَيْرِهَا وَقَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ مِمَنْ كَرِهَ السَّدَلَ فِيْ الصَّلَاةِ ابْنُ مَسْعُوْد وَمُجَاهِد وَعَطَاء وَالنَّخَعِي وَالثَّوْرِي.
Al-Khithabi berkata, “sebagian ulama memberi keringanan menjulurkan pakaian melebihi mata kaki ketika shalat. Pernyataan ini diriwayatkan dari Atho’, Makhul, az-Zuhri, al-Hasan, Ibnu Sirin dan Malik.” Dia melanjutkan, “Mereka membedakan antara dibolehkan ketika di dalam shalat dan tidak diperbolehkan ketika di luar shalat. Karena orang yang shalat tidak berjalan (sehingga kainnya tidak terseret) sedangkan di luar shalat dia berjalan di atas kain tersebut dan menjulurkannya. Hal ini termasuk kesombangan yang dilarang. Adapun Ats-Tsauri memakruhkan menjulurkan pakaian melebihi mata kaki ketika salat. Begitu pula Imam Syafi’i memakruhkannya baik di dalam ataupun di luar shalat. Ibnu Mundzir berkata, ‘Di antara para ulama yang memakruhkannya di dalam shalat adalah Ibnu Mas’ud, Mujahid, Atho’, an-Nakha’i dan ats-Tsauri.’” (Al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzdzab, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain an-Nawawi ad-Dimasyqiy, 3/ 177-178)
Ibnu Taimiyah al-Harani rahimahumullah berkata,
فَمَنْ لَبِسَ فِي الصَّلَاةِ مَا يَحْرُمُ فِيهَا وَفِي غَيْرِهَا كَالثِّيَابِ الَّتِي فِيهَا خُيَلَاءُ وَفَخْرٌ؛ كَالْمُسَبَّلَةِ وَالْحَرِيرِ كَانَ أَحَقَّ بِبُطْلَانِ الصَّلَاةِ مِنْ الثَّوْبِ النَّجِسِ وَفِي الْحَدِيثِ الَّذِي فِي السُّنَنِ: {إنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ صَلَاةَ مُسَبِّلٍ}
Maka barang siapa yang mengenakan pakaian yang diharamkan untuk melaksanakan shalat atau selain shalat, seperti pakaian yang dipakai dengan rasa sombong dan angkuh, yaitu seperti orang yang menjulurkan pakaiannya melebihi mata kaki dan memakai sutra. Maka orang yang semacam ini yang lebih benar adalah batal shalatnya daripada shalat orang yang memakai pakaian yang terkena najis. Di dalam hadits yang terdapat di dalam kitab Sunan, “Sesungguhnya Allah tidak menerima shalat orang yang musbil (menjulurkan kain hingga melebihi mata kaki).” (Fatawa al-Kabir, Taqiyuddin Ahmad bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah al-Harrani, 5/ 135)
Syaikh Abdullah bin Baz rahimahumullah menjelaskan,
لِيَحْذَرَ الْعَوْدُ إِلَى الْإِسْبَالِ أَمَّا صَلَاتُهُ فَصَحِيْحَةٌ لِأَنَّ الرَّسُوْلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَأْمُرْهُ بِإِعَادَتِهَا وَإِنَّمَا أَمَرَهُ بِإِعَادَةِ الْوُضُوْءِ وَنَفْيُ الْقَبُوْلِ فِيْ الصَّلَاةِ لَا يَلْزَمُ مِنْهُ بُطْلَانُ الصَّلَاةِ فِيْ جَمْيِعِ مَوَارِدِهِ.
Agar waspada tidak kembali melakukan isbal. Adapun shalatnya (orang yang isbal) tetap sah, karena Rasululah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkannya untuk mengulani shalat. Akan tetapi beliau memerintahakan untuk mengulangi wudhu. Tidak diterimanya shalat bukan berarti mengharuskan shalatnya batal di segala sisinya. (Majmu’ Fatawa, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, 26/ 235)
Baca juga:
Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahumullah juga menjelaskan,
وَعَلَى هَذَا يُحِبُّ عَلَى اْلِإنْسَانِ أَنْ يَرْفَعَ ثَوْبَهُ وَغَيْرَهُ مِنْ لِبَاسِهِ عَمَّا تَحْتَ كَعْبَيْهِ وَإِذَا صَلَّى بِهِ وَهُوَ نَازِلٌ تَحْتَ الْكَعْبَيْنِ فَقَدِ اخْتِلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِيْ صِحَّةِ صَلَاتِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَرَى أَنَّ صَلَاتَهُ صَحِيْحَةٌ لِأَنَّ هَذَا الرَّجُلَ قَدْ قَامَ بِالْوَاجِبِ وَهُوَ سَتْرُ الْعَوْرَةِ وَمْنِهُمْ مَنْ يَرَى أَنَّ صَلَاتَهُ لَيْسَتْ بِصَحِيْحَةٍ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ سَتَرَ عَوْرَتَهُ بِثَوْبٍ مُحَرَّمٍ وَجَعَلَ هَؤُلَاءِ مِنْ شُرُوْطِ السَّتْرِ أَنْ يَكُوْنَ الثَّوْبُ مُبَاحاً.
Berdasarkan hadits “Kain yang menjulur sampai di bawah mata kaki maka di neraka”, maka lebih baik bagi kaum muslimin untuk mengangkat pakaiannya atau sejenisnya ketika menjulur di bawah mata kaki. Apabila seseorang shalat dengan keadaan kain pakaian menjulur hingga di bawah mata kaki, para ahli fikih berselisih pendapat mengenai keabsahan shalatnya. Di antara ahli fikih ada yang berpendapat bahwa shalatnya sah. Karena dia telah memenuhi kewajiban dan dia telah menutup aurat. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa shalatnya tidak sah. Hal itu dikarenakan dia menutup aurat dengan pakaian yang haram. Mareka memasukkan syarat satr di antaranya adalah baju yang hukumnya mubah (boleh) untuk digunakan (tidak haram). (Majmu’ Fatawa wa Rasail, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 12/ 306) Wallahu a’lam [hujjah / Anakpondok.com ]

Komentar
Posting Komentar