Bersiwak Dan Waktu Disunnahkan
Bersiwak selain menjadikan mulut bersih dan sehat, bersiwak merupakan perbuatan yang sangat disukai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bisa menjadi pahala mendapatkan ridha-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda, “Siwak merupakan kebersihan bagi mulut sekaligus keridhaan bagi Rabb.” (Riwayat Ahmad).
Pengertian siwak sendiri bisa kembali pada dua perkara:
Pertama bermakna alat yaitu kayu/ranting yg digunakan utk menggosok mulut guna membersihkan dari kotoran. Asal adalah kayu dari pohon araak.
Kedua bermakna fi’il atau perbuatan yaitu menggosok gigi dgn kayu siwak atau semisal utk menghilangkan warna kuning yg menempel pada gigi dan menghilangkan kotoran sehingga mulut menjadi bersih dan diperoleh pahala.
Dengan demikian bersiwak dengan kayu siwak dari araak atau dengan apa saja yg bisa menghilangkan perubahan bau mulut seperti membersihkan gigi dengan kain perca atau sikat gigi.
Namun tentu bersiwak dengan menggunakan kayu siwak lebih utama. Karena hal itulah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditunjukkan dlm hadits-hadits yg berbicara tentang siwak.
Hukum bersiwak ini sunnah tak wajib dalam seluruh keadaan baik sebelum shalat ataupun selainnya. Dan ini merupakan pendapat yang rajih yang dipegangi oleh penulis. Ini juga merupakan pendapat jumhur ulama menyelisihi sebagian ulama yg memandang wajib perkara ini. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu mengatakan: “Kami tidak mengetahui ada seorang pun yang berpendapat bersiwak itu wajib kecuali Ishaq dan Dawud Azh-Zhahiri.” .
Dalil tidak wajib bersiwak ini diisyaratkan dalam hadits:
لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ
“Seandai aku tidak memberati umatku niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak tiap kali berwudhu.”
Al-Imam Asy-Syafi‘i rahimahullahu mengatakan: “Dalam hadits ini ada dalil bahwa siwak tidaklah wajib. Seseorang diberi pilihan . Karena jika hukum wajib niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memerintahkan mereka baik mereka merasa berat ataupun tidak.” .
Kekhawatiran memberatkan umat merupakan sebab yang mencegah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam utk mewajibkan bersiwak ini.
Bersiwak merupakan ibadah yg tdk banyak membebani sehingga sepatut seorang muslim bersemangat melakukan dan tdk meninggalkannya. Di samping itu banyak faedah yang didapatkan berupa kebersihan kesehatan menghilangkan aroma yg tdk sedap mewangikan mulut memperoleh pahala dan mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Banyak sekali hadits yg berbicara tentang siwak sehingga Ibnul Mulaqqin rahimahullahu dlm Al-Badrul Munir mengatakan: “Telah disebutkan dalam masalah siwak lebih dari seratus hadits.”
Karena perkara bersiwak ini disenangi oleh Rasul kita yg mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pernah beliau tinggalkan sampai pun menjelang ajal sementara kita diperintah dlm Al-Qur`an untuk menjadikan beliau sebagai qudwah suri teladan mk pembahasan tentang siwak tidak patut kita abaikan. Ditambah lagi bersiwak ini termasuk sunnah wudhu dan termasuk thaharah yang kita dianjurkan untuk melakukannya. Semoga apa yang kami tuliskan ini menjadi ilmu yang bermanfaat dan mudah-mudahan dapat diamalkan oleh kita semua. Amin!
Kesenangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersiwak
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian senang bersiwak. Beliau tdk melupakan sampai pun pada detik-detik menjelang beliau dijemput kembali ke sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan:
دَخَلَ عَبْدُ الرَّحْمنِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مُسْنِدَتُهُ إِلَى صَدْرِي، وَمَعَ عَبْدِ الرَّحْمنِ سِوَاكٌ رَطْبٌ يَسْتَنُّ بِهِ، فَأَبَدَّهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَصَرَهُ، فَأَخَذْتُ السِّوَاكَ فَقَضَمْتُهُ وَطَيَّبْتُهُ، ثُمَّ دَفَعْتُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَنَّ بِهِ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَنَّ اسْتِنَانًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ، فَمَا عَدَا أَنْ فَرَغَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَهُ أَوْ إِصْبَعَهُ ثُمَّ قَالَ: فِي الرَّفِيْقِ اْلأَعْلَى -ثَلاَثًا- ثُمَّ قَضَى
‘Abdurrahman bin Abi Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma masuk menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan dadaku menjadi tempat sandaran beliau. ‘Abdurrahman membawa siwak yang masih basah yang dipakai untuk bersiwak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat pandangan mata beliau melihat siwak itu. Aku pun mengambil siwak tersebut lalu mematahkan ujung serta memperbaiki dan membersihkan kemudian aku berikan pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau kemudian bersiwak dengannya. Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak sebagus yg kulihat kali itu. Tidak berapa lama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari bersiwak beliau mengangkat tangan atau jari kemudian berkata: “Pada teman-teman yang tinggi ” Lalu beliau pun wafat.
Dalam satu lafadz ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:
فَرَأَيْتُهُ يَنْظُرُ إِلَيْهِ، وَعَرَفْتُ أَنَّهُ يُحِبُّ السِّوَاكَ. فَقُلْتُ: آخِذُهُ لَكَ؟ فَأَشَارَ بِرَأْسِهِ أَنْ نَعَمْ
Aku melihat beliau memandangi siwak tersebut dan aku tahu beliau menyukai bersiwak. maka aku katakan: “Apakah aku boleh mengambilkan untukmu?” Beliau mengisyaratkan “iya” dgn kepala beliau .
Bersiwak Membersihkan Mulut dan Diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
السِّوَاكُ مُطَهَّرَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
“Siwak itu membersihkan mulut diridhai oleh Ar-Rabb.”
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma juga mengabarkan hal yang senada dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
عَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ فَإِنَّهُ مَطْيَبَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
“Seharus bagi kalian utk bersiwak. Karena dengan bersiwak akan membaikkan mulut diridhai oleh Ar-Rabb tabaraka wa ta’ala.”
Waktu-waktu Disunnahkan Bersiwak
Bersiwak adalah sunnah dalam seluruh waktu. Namun ada lima waktu yg lbh ditekankan bagi kita utk melakukan . Waktu-waktu tersebut adl sebagai berikut:
1. Setiap akan shalat dan wudhu
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ
“Seandai aku tdk memberatkan umatku niscaya aku perintahkan mereka utk bersiwak tiap kali berwudhu.”
Al-Imam Al-Bukhari dlm Shahih- dan Al-Imam Muslim dlm Shahih- juga mengeluarkan hadits di atas hanya saja lafadz akhir adalah: مَعَ كُلِّ صَلاَةٍ . Selengkap adalah:
لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلاَةٍ
“Seandai aku tdk memberatkan umatku niscaya aku perintahkan mereka utk bersiwak tiap kali tiap kali hendak mengerjakan shalat.”
Permasalahan disunnahkan bersiwak ketika hendak shalat dan berwudhu ini diriwayatkan dari sejumlah shahabat. Di antara Abu Hurairah Zaid bin Khalid ‘Ali bin Abi Thalib Al-’Abbas bin Abdil Muththalib Ibnu ‘Umar Abdullah bin Hanzhalah dan selain mereka radhiyallahu ‘anhum ajma’in.
Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullahu berkata: “Rahasia dianjurkan kita bersiwak saat hendak shalat adl kita diperintahkan dlm tiap keadaan taqarrub diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala utk berada dlm kesempurnaan dan kebersihan dlm rangka menampakkan kemuliaan ibadah.”
Ada pula yg berpendapat bahwa perkara berkaitan dgn malaikat. Karena malaikat akan terganggu dgn aroma tdk sedap yg keluar dari mulut seseorang.
2. Ketika masuk rumah
Syuraih bin Hani` pernah berta kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
بِأَيِّ شَيْءٍ كَانَ يَبْدَأُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ؟ قَالَتْ: بِالسِّوَاكِ
“Apa yg mulai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan apabila beliau masuk rumah?” Aisyah menjawab: ‘Beliau mulai dgn bersiwak’.”
3. Saat bangun tidur di waktu malam
Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوْصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bangun di waktu malam beliau menggosok mulut dgn siwak.”
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَنَامُ إِلاَّ وَالسِّوَاكُ عِنْدَهُ، فَإِذَا اسْتَيْقَظَ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah tidur melainkan siwak berada di sisi beliau. Bila terbangun dari tidur beliau mulai dgn bersiwak.”
Alasan disenangi bersiwak pada saat seperti ini kata Al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullahu adl krn tidur menyebabkan berubah bau mulut. Sedangkan siwak merupakan alat utk membersihkan mulut. Sehingga disunnahkan bersiwak tatkala terjadi perubahan bau mulut.
Dalam hal ini sama saja baik bangun utk mengerjakan shalat atau tidak. ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengabarkan:
قُمْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَدَأَ فَاسْتَاكَ ثُمَّ تَوَضَّأَ، ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي وَقُمْتُ مَعَهُ..
“Aku pernah bangkit bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau mulai bersiwak. Setelah itu beliau berwudhu. Kemudian beliau bangkit utk mengerjakan shalat dan aku pun bangkit bersama beliau”
4. Ketika hendak membaca Al-Qur`an
Dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
السِّوَاكُ مَطَهَّرَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِ
“Siwak itu membersihkan mulut diridhai oleh Ar-Rabb.”
Sementara membaca Al-Qur`an tentu menggunakan mulut.
Dari Ali ibn Thalib Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah memerintahkan kami bersiwak: ‘Sesungguhnya seorang hamba jika berdiri menunaikan shalat, malaikat lalu mendatanginya, berdiri di belakangnya mendengar bacaan al-Qur`an dan mendekat. Malaikat terus mendengar dan mendekat sampai ia meletakkan mulutnya di atas mulut hamba tersebut, hingga tidaklah dia membaca satu ayat pun kecuali malaikat berada di rongganya.” (Riwayat Baihaqi).
5. Bersiwak dihari Jum’at
Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya membuat Bab khusus tentang ditekankannya bersiwak pada hari Jum’at yaitu dalam dalam Kitabul Jumu’ati Bab Ath-Thibbi Lil Jumu’ati, no. 880 dan Bab As-Siwaki Yaumul Jumu’ati, no.hadits 887, 888, dan 889).
6. Bersiwak Meski Sedang Puasa
Dari Amir bin Rubaiah, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah bersiwak (berulang kali hingga aku tidak bisa menghitungnya), padahal beliau sedang berpuasa.” (Riwayat Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).
7. Saat bau mulut berubah
Perubahan bau mulut bisa terjadi krn beberapa hal. Di antaranya: krn tdk makan dan minum krn memakan makanan yg memiliki aroma menusuk/tak sedap diam yg lama/tak membuka mulut utk berbicara banyak berbicara dan bisa juga krn lapar yg sangat demikian pula bangun dari tidur.
Bersungguh-sungguh dlm Bersiwak
Ketika seseorang bersiwak hendaklah ia melakukan dgn sungguh-sungguh sebagaimana yg dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu menceritakan:
أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَسْتَاكُ بِسِوَاكٍ رَطْبٍ. قَالَ: وَطَرَفُ السِّوَاكِ عَلَى لِسَانِهِ وَهُوَ يَقُوْلُ: أُعْ، أُعْ. وَالسِّوَاكُ فِي فِيْهِ كَأَنَّهُ بَتَهَوَّعُ
“Aku pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu beliau sedang bersiwak dgn siwak basah. Ujung siwak itu di atas lidah beliau dan siwak di dlm mulut beliau seakan-akan beliau hendak muntah.”
Hadits di atas menunjukkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dlm bersiwak sampai-sampai hendak muntah karenanya. Selain itu menunjukkan disenangi bersiwak menggunakan siwak yg basah sebagaimana dlm hadits Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yg telah lewat tentang bersiwak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafatnya. Di samping itu hadits ini menunjukkan bahwa selain digunakan utk membersihkan gigi siwak dapat pula digunakan utk membersihkan lidah.
Sumber: Wiki Pedia, Hidayatullah, Berita islam masa kini & DLL

Komentar
Posting Komentar