Anakpondok.com - Syarat-Syarat Do`a Dan Adab-Adabnya I
Diwajibkan bagi seorang Muslim untuk membiasakan ibadah (do`a) yang mulia ini dengan memenuhi syarat-syarat dan adab-adabnya. Semua syarat dan adab ini telah terkandung di dalam firman Allah Ta’ala dalam surat al-A’raf (55-56):
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ {55} وَلاَتُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ {56}
“Berdo'alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”,baik itu melalui petunjuk nash ataupun isyarat. Bada’i’ al-Fawaid, (3/2).
Di antaranya:
1. Hendaknya orang yang berdo`a bertauhid mengesakan Allah Ta’ala di dalam Rububiyah, Uluhiyah, Asma dan SifatNya, hatinya penuh dengan tauhid dan pohon keimanan. Maka, syarat dikabulkannya do`a oleh Allah Ta’ala, adalah adanya pemenuhan seorang hamba terhadap perintah Tuhannya, dengan menaatiNya dan tidak mendurhakaiNya. Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ {186}
“
Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo`a apabila ia berdo`a kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186).
2. Do`a tersebut adalah do`a yang masyru’ (ada dasar syariatnya) dan untuk suatu keperluan yang masyru’ (diperbolehkan agama) pula.
3. Berkeyakinan bahwasanya yang mampu mengabulkan do`a dengan memberi manfaat dan menolak kemudaratan tersebut, hanyalah Allah Ta’ala semata.
4. Merealisasikan dua rukun ibadah: Ikhlas dan mengikuti sunah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam (mutaba’ah).
5. Menghadap kepada Allah Ta’ala semata dengan penuh ketundukan dan kepasrahan.
6. Memakan makanan yang halal, berpakaian, berdiam/tinggal, dan bekerja yang halal, juga suka memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar.
7. Tidak sewenang-wenang terhadap diri sendiri dengan merusak kehormatan dan melakukan kemaksiatan, seperti durhaka terhadap kedua orang tua dan memutus hubungan sanak kerabat.
8. Tidak melanggar batas di dalam berdo`a, seperti berdo`a untuk perbuatan dosa atau memutus silaturrahim.
9. Tidak menuntut agar do`anya segera dikabulkan, juga tidak minta ditunda, tidak gampang putus asa, karena dia sedang berdo`a kepada Tuhan Yang Maha Dermawan.
10. Memulai do`a dengan memuji Allah Ta’ala sesuai dengan kedudukan yang dimilikiNya, dan dengan memohon shalawat serta salam untuk Nabi dan Rasul terakhir, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam
11. Meyakini akan terkabulnya do`a, sebagaimana akan dibahas nanti, insyaa Alloh.
12. Berdo`a dengan tingkatan yang paling sempurna, yaitu: Pertama, bershalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada pembukaan do`a, pertengahan dan penghabisannya. Sebab, kedudukan shalawat bagi do`a ibarat sayap, dia akan mengangkat do`a yang tulus naik ke langit; Kedua, bershalawat pada pembukaan dan penghabisannya; dan ketiga, bershalawat pada pembukaannya saja.
13. Memulai dengan mendo`akan diri sendiri bila dia berdo`a sendirian. Karena, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam jika berdo`a, beliau memulai dengan mendo`akan dirinya sendiri. Dan begitu pula bila dia berdo`a untuk orang lain. Yang demikian adalah cara para nabi 'alaihimu sallam dalam berdo`a, sebagaimana yang terdapat di dalam ayat-ayat al-Qur’an al-Karim. Dan dalam beberapa kesempatan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdo`a untuk beberapa orang tertentu saja. Jika dia berdo`a bersama kaum (secara berjamaah), maka mereka mengamini do`anya, disamping do`a tersebut diucapkan dalam bentuk jamak agar bisa mencakup semua orang.
14. Mengimani kekuasaan Allah Ta’ala untuk memberikan manfaat, dan mencegah bahaya, serta menghilangkan keburukan.
15. Bertawassul kepada Allah Ta’ala dengan keesaan-Nya, Asma dan SifatNya, serta melalui amal yang shalih. Setelah itu, anda meminta apa yang menjadi kebutuhan anda.
Berikut ini tingkatan yang paling sempurna dari ketiga macam jenis do`a, yaitu Jala al-Afham, karya Ibnul Qayyim, hal. 79-80. :
Pertama, Anda meminta kepada Allah Ta’ala bertawassul dengan Asma dan Sifat-Nya, sebagaimana yang terdapat dalam salah satu dari dua tafsir terhadap firman Allah Ta’ala:
وَللهِ اْلأَسْمَآءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
“
Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut nama-namaNya....” (al-A’raf: 180).
Kedua, Anda meminta Allah Ta’ala bertawassul dengan hajat anda, kefakiran, kehinaan, dan amal-amal shalih anda. Misalnya, anda katakan: ‘Saya adalah hamba yang fakir, miskin, hina, membutuhkan pertolongan dan lain sebagainya”; Danketiga, anda meminta kebutuhan anda, dan anda tidak menyebutkan salah satu dari kedua bentuk tawassul tersebut. Yang pertama lebih sempurna daripada yang kedua, sedang yang kedua lebih sempurna daripada yang ketiga. Jika do`a tersebut mengandung ketiga hal ini, maka do`a tersebut dikatakan paling sempurna.
16. Membaca do`a-do`a yang singkat tapi padat.
17. Menutup do`a dengan menyebut salah satu nama dari Asma’ul husna yang sesuai dengan permohonannya, karena yang demikian adalah tradisi para nabi shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do`a mereka, sebagaimana yang terdapat di dalam beberapa ayat al-Qur’an al-Karim dan di dalam do`a-do`a Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan hal ini di dalam as-Sunah banyak sekali. Jala al-Afham, hal. 188-189; ar-Ruh, hal. 38; dan at-Tibyan, hal. 59.
Dalam keadaan suci dari hadats dan kotoran najis.
18. Agar mulutnya bersih, dan dibersihkan dengan siwak. Dengan demikian, anda bisa mengetahui bahwa do`a dan dzikir dalam keadaan mulut bercampur kotoran (bau tidak sedap) sama dengan asap rokok, itu menyelisihi etika berdo`a. Bahkan, haram hukumnya membaca al-Qur’an al-Karim pada tempat-tempat duduk yang berbau asap rokok, mengingat akan adanya sikap peremehan yang muncul akibat tindakan tersebut.
19. Pada tempat yang suci, mengingat bersifat umumnya perintah untuk menjauhi najis, sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah Ta’ala:
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ {4} وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
“Dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah.” (al-Muddatstsir: 4-5).
19. Dalam penampilan yang bagus, dengan menghadap ke arah kiblat sambil berdo`a dengan suara yang rendah dan lembut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Berdo'alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (al-A’raf: 55).
Sungguh, Allah Ta’ala telah memuji Nabi Zakariya 'Alaihi sallam (karena berdo`a dengan suara lembut) seraya berfirman,
إِذْنَادَى رَبَّهُ نِدَآءً خَفِيًّا
“Yaitu tatkala ia berdo'a kepada Rabbnya dengan suara yang lembut.” (Maryam: 3).
19. Dengan do`a yang tidak dilagukan, tidak berlebih-lebihan dalam mengucapkannya, dan tidak disajakkan (dipuisikan). Karena, hal itu bertentangan dengan sikap rendah diri dalam berdo`a.
20. Agar do`a tersebut di-i’rab (tepat tatabahasanya) tidak dikacaukan. Karena, i’rab merupakan sandaran perkataan (kalimat), yang dengannya makna menjadi benar, dan tanpanya makna menjadi salah. Dan bisa jadi makna terbalik menjadi salah hingga berubah menjadi berma`na kufur. Oleh karena itu, Abu Utsman al-Mazini rahimahullah pernah berkata kepada seorang muridnya: “Wajib bagimu mempelajari nahwu (tata bahasa), karena Bani Israel menjadi kafir hanya karena satu huruf berat yang mereka jadikan ringan. Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi Isa 'Alaihi sallam : ‘Sesungguhnya Aku telah menjadikanmu terlahir’, lalu mereka (membunyikannya dengan) berkata, “Sesungguhnya Aku telah melahirkanmu”, maka mereka pun menjadi kafir.”
Diriwayatkan dari ar-Rayasyi, ia berkata, “Imam Asma’i pernah menjumpai seorang pemuda yang mengatakan di dalam do`anya: ‘Yâ Dzul Jalâli wal ikrâm,’ [seharusnya: Yâ Dzal jalâli] lalu beliau bertanya: ‘Siapa namamu?’ Pemuda tersebut menjawab: ‘Laits.’ Maka, beliau pun melantunkan bait syair: “Laits memanggil Tuhannya dengan ucapan yang salah. Karenanya, jika dia berdo`a kepada-Nya, Dia tidak mengabulkannya.” Sya’n ad-Du’a karya al-Khithabi, hal. 19-20; dan Mu’jam al-Udaba karya Yaqut, (1/54).
Dan yang demikian ini dalam i’râb yang tidak dipaksa-paksakan (takalluf). Karena, sikap takalluf padanya, juga pada pengaturan lidah dan makhraj (tempat keluarnya) huruf dan bentuk takalluf dan berfasih-fasih lainnya, itu justeru bisa melemahkan konsentrasi hati pemohon (orang yang berdo`a) dalam menghadap kepada Tuhannya.
Dalam hal ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah punya jawaban lengkap atas suatu pertanyaan. Redaksinya Al-Fatâwâ,(22/488-489).: “Beliau pernah ditanyakan tentang seseorang yang berdo`a dengan bacaan yang salah, lalu orang tersebut bertanya kepada beliau: ‘Apakah Allah Ta’ala tidak mengabulkan do`a yang tatabahasanya salah?’ Beliau menjawab: “Siapa saja yang mengatakan perkataan semacam ini, maka dia berdosa dan menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah, serta menyelisihi apa yang telah dilakukan oleh para ulama salaf. Adapun orang yang berdo`a kepada Allah Ta’ala, tulus di dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya dengan membaca do`a yang diperbolehkan, maka Allah Ta’ala akan mendengarnya dan mengabulkan do`anya, baik do`a tersebut dengan bahasa yang benar i`rabnya ataupun masih salah. Sedangkan perkataan (penanya) tersebut tidak ada dasarnya, akan tetapi orang yang berdo`a seharusnya tidak memaksakan diri dengan i`rab jika itu memang bukan kebiasaannya. Seorang ulama salaf pernah berkata, “Jika ada i’râb, maka sirnalah kekhusyu’an.” Juga dimakruhkan pula untuk bersajak di dalam berdo`a. Namun, jika ternyata itu terjadi tanpa dibuat-buat, maka hukumnya sah-sah saja. Karena, dasar do`a itu dari hati, sementara lisan hanya sebatas mengikuti hati.”
Barangsiapa yang konsennya dalam berdo`a hanya sebatas memfasihkan bacaan do`a, maka ia telah melemahkan konsentrasi hatinya. Oleh karena itu, seseorang yang dalam kondisi malarat akan berdo`a dengan do`a yang bisa membukakan hatinya (saeakan-akan melihat Allah), tidak pernah ia rasakan sebelum itu. Yang demikian itu bisa ditemukan oleh setiap orang mu’min di dalam hatinya.
Do`a itu boleh dengan bahasa Arab dan bahasa lainnya, karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui maksud yang ingin dicapai oleh si pemohon, sekalipun lisannya tidak fasih, karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui berbagai bunyi suara dengan berbagai bahasa yang berbeda-beda dan berbagai variasi kebutuhan.

Komentar
Posting Komentar