Langsung ke konten utama

Syarat-Syarat Do`a Dan Adab-Adabnya 2

Syarat-Syarat Do`a Dan Adab-Adabnya 2
Anakpondok.com - Syarat-Syarat Do`a Dan Adab-Adabnya 2

21. Hendaknya pemohon mengangkat kedua tangannya mengarah ke mukanya, dengan salah satu tangannya menyatu ke tangan yang lainnya. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhu: “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika berdo`a, beliau menyatukan kedua telapak tangannya, dan menjadikan yang tengah-tengahnya menghadap ke mukanya.” (HR. ath-Thabrani di dalam al-Kabir, dengan sanad dhaif (lemah). Lihat Syarh al-Ihya, (5/35).

Karena, mengangkat kedua tangan termasuk di antara sebab-sebab diterimanya do`a. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,


إِنَّ رَبَّكَ حَيِيٌّ سَتِـيْرٌ، يَسْتَحْيِيْ مِنْ عَبْدِهِ إِنْ رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا.

Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Pemalu lagi Maha Tersembunyi (Tertutup), Dia merasa malu dari hamba-Nya -jika hamba tersebut (sewaktu berdo`a) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya- untuk menolak kedua tangan itu dalam keadaan hampa.”

Dan pemohon tidak perlu mengangkat kedua tangannya pada saat melakukan do`a yang terikat oleh keadaan, waktu dan tempat, mengingat tidak ada riwayat yang menyatakan bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam selalu mengangkat kedua tangannya pada saat itu. Seperti halnya do`a di dalam khutbah Jum’at, karena di sini khatib dan jamaah yang hadir dimakruhkan mengangkat kedua tangan mereka, kecuali jika berdo`a memohon turunnya hujan (istisqa).

Dalam hal mengangkat kedua tangan pada waktu do`a ini, telah diriwayatkan secara mutawatir (maknawi) dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di dalam banyak hadîts. Dan mengangkat kedua tangan serta menengadahkannya kepada Allah Ta’ala merupakan bentuk ketundukan, penyembahan dan permohonan rizki. Allah Ta’ala telah mencela orang-orang munafik dikarenakan mereka selalu menggenggam tangan mereka. Maksudnya adalah mereka sangat bakhil untuk mengeluarkan harta dan berjihad. Salah seorang ahli tafsir berkata, “Allah Ta’ala mencela para kaum yang tidak mau menengadahkan tangan-tangan mereka (berdo`a) kepada Allah.” Selanjutnya dia menafsirkan ayat:


وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ


“Dan mereka mengenggam tangan mereka…” (at-Taubah: 67)

dengan mengatakan, “Maksudnya, mereka tidak mau mengangkat tangan mereka kepada Kami ketika berdo`a.”

Boleh bagi orang yang berdo`a mengusap mukanya dengan kedua tangannya tersebut sehabis berdo`a pada waktu di luar shalat, bukan di dalamnya, mengingat tidak adanya dalil shahih -bahkan dha’if sekalipun- yang mengajarkan untuk mengusap muka setelah mengangkat kedua tangan pada qunut di dalam shalat. Lihat al-Fatâwâ, (22/519).


Dalam hal mengangkat kedua tangan dan menghadap ke arah kiblat ini sudah pernah dikerjakan dan diabaikan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam . Dan sungguh Allah Ta’ala telah berfirman,


الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا


(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk….” (Ali ‘Imran: 191). Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga berdo`a pada hari Jum’at di dalam khutbahnya, beliau memohon turun hujan sementara beliau berada di atas mimbar dengan mengangkat kedua tangannya, dan beliau tidak menghadap ke arah kiblat.


Do`a disyariatkan dalam keadaan bersuci, dan ini merupakan sifat kesempurnaan do`a, dan juga dalam keadaan tidak bersuci. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melakukan keduanya. Dari ‘Aisyah shallallahu 'alaihi wasallam diriwayatkan, dia berkata,


كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ فِيْ جَمِيْعِ أَحْيَانِهِ.

“Pernah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdzikir kepada Allah Ta’ala dalam seluruh waktunya.” (HR. Muslim).

22. Agar pemohon menampakkan kefakiran dan kemiskinannya di hadapan Tuhannya, dalam suasana yang sangat mulia, yaitu berupa kehadiran hati, penuh harapan, menghadap kepada-Nya dengan sepenuh hati, tunduk, pasrah, khusyu’, harap dan cemas, baik dalam keadaan sempit maupun lapang, sukar dan mudah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala ketika menggambarkan keadaan para nabi shallallahu 'alaihi wasallam:


فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَباًوَكَانُوا لَنَاخَاشِعِينَ


“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo'a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.” (al-Anbiya: 90). Kata ‘yad’uunana’ (berdo`a kepada Kami) di dalam ayat ini, berarti: mereka menyembah Kami.


Di dalam sebuah hadîts disebutkan:


اْلقُلُوْبُ أَوْعِيَةٌ وَبَعْضُهَا أَوْعَى مِنْ بَعْضٍ.


“Hati itu ibarat wadah, dan sebagian wadah tersebut lebih luas daripada sebagian wadah yang lain.” (HR. Ahmad)


23. Wajib bagi seorang hamba untuk memperbanyak do`a pada waktu lapang. Terdapat riwayat shahîh dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda,


مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْـتَجِيْبَ اللهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَاْلكُرَبِ فَلْـيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ.


“Barangsiapa yang ingin agar AllahTa’alamengabulkan do`anya pada waktu sempit dan susah, maka hendaknya dia memperbanyak do`a pada waktu lapang.” (HR. Tirmizi).


Dikatakan pula: “Barangsiapa yang terbiasa mengetuk pintu, maka dia memasukinya.” 

24. Hendaknya orang yang berdoa, dalam kondisi bagaimana pun berazam dalam meminta, dan agar ketika berdo`a dia yakin do`anya dikabulkan, sambil berbesar harapan akan kemurahan dan karunia Allah Ta’ala merengek dalam berdo`a dengan mengulang-ulanginya hingga tiga kali, sebagaimana yang terdapat dalam hadîts yang bersumber dari riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu, “bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sangat suka kalau berdo`a sampai tiga kali, dan beristighfâr sampai tiga kali.” (HR. Abu Daud dan an-Nasa’i). Juga, sebagaimana terdapat dalam hadîts ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, “bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada saat terkena sihir, beliau berdo`a, lalu berdo`a, lalu berdo`a lagi.” (HR. Muslim).

25. Hendaknya pemohon merengek-rengek dalam berdo`a dan terus seperti itu, tidak merasa jemu untuk berdo`a. Karena, seorang yang merengek dalam berdo`a akan memperoleh kecintaan Allah Ta’ala kepadanya. Dan tidak ada seseorang yang binasa karena do`a, sebagaimana yang telah diungkapkan dalam sebuah hadîts.

26. Hendaknya tidak minta supaya pengkabulan do`anya ditunda, dan tidak merasa gelisah bila do`anya terlambat dikabulkan, juga tidak merasa frustasi lalu tidak mau berdo`a. Jika tidak bersikap demikian, maka dia akan mengeluh dan akibatnya adalah ia berdosa, karena frustasi terhadap rahmat Allah Ta’ala termasuk salah satu dosa besar. Dan barangsiapa yang mengealuh, berarti dia telah terputus dari rahmat Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman,


وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ عِندَهُ لاَيَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلاَيَسْتَحْسِرُونَ


Dan kepunyaan-Nyalah segala yang ada di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) mengeluh.” (al-Anbiya: 19). Kata ‘la yastahsiruun’ dalam ayat ini, berarti: mereka tidak merasa letih (tidak mengeluh).


Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah ditanya tentang dosa-dosa besar, lalu beliau menjawab:

الشِّرْكُ باِللهِ وَاْليَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ وَاْلأَمْنُ مِنْ مَكْرِ اللهِ.


Menyekutukan Allah, merasa putus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari adzab Allah.” 


27. Hendaknya tidak berputus asa. Allah Ta’ala telah berfirman,


قَالَ وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِ إِلاَّ الضَّالُّونَ


Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat.” (al-Hijr: 56). Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata,



أَكْبَرُ اْلكَبَائِر: الإشرَاكُ باِلله وَاْلأَمْنُ مِنْ مَكْرِ اللهِ، وَاْلقَنُوْطُ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ، وَاْليَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ.

Dosa besar yang paling besar, adalah menyekutukan Allah Ta’ala , merasa aman dari makar AllahTa’ala dan merasa putus asa dari rahmat Allah Ta’ala” (HR. Abdurrazzaq).

Di dalam sebuah atsar yang bersumber dari Sufyan bin ‘Uyainah, bahwasanya beliau pernah berkata, “Jangan sekali-kali apa yang diketahui oleh seseorang tentang dirinya (putus asa) mencegahnya untuk berdo`a. Karena, sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengabulkan permintaan makhluk terjahat, yaitu Iblis -semoga Allah Ta’ala melaknatinya, ketika Iblis berkata,


قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ {36} قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ {37}

“Ya Rabbku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.” Allah berfirman, “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang yang diberi tangguh.” (al-Hijr: 36-37).

28. Hendaknya berprasangka baik terhadap Allah Ta’ala ketika berdo`a, sebagaimana dalam keadaan lainnya di dalam seluruh kehidupannya. Terdapat suatu riwayat di dalam sebuah hadîts qudsi, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda,


يَقُوْلُ اللهُ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِيْ.

AllahTa’ala berfirman, ‘Aku tergantung prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, dan Aku akan bersamanya ketika dia berdzikir kepada-Ku’.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Tirmizi dan an-Nasa’i).

Barangsiapa yang mempunyai prasangka baik terhadap Allah Ta’ala, maka tentunya Allah Ta’ala akan melimpahkan kepadanya kebaikan-kebaikan-Nya, dan barangsiapa yang berprasangka tidak demikian, maka tentunya Allah Ta’ala juga tidak akan demikian terhadapnya.

Imam Qurthubi rahimahullah pernah berkata, “Disebutkan bahwa makna kalimat ‘zhanni abdî bî’ disini adalah: berprasangka bahwa Allah Ta’ala akan mengabulkan do`anya, menerima taubatnya, mengampuni dosanya ketika dia beristighfâr, dan memberi pahala ketika dia melakukan ibadah lengkap dengan syarat-syaratnya sebagai pegangan kepada kejujuran janji Allah Ta’ala.”

Namun, jangan sekali-kali anda berprasangka akan mendapatkan ampunan bila anda terus-menerus melakukan dosa. Maka, yang demikian itu hanyalah suatu kebodohan dan kelengahan belaka. Diriwayatkan di dalam sebuah hadîts bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda,


مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلاَتُهُ عَـنِ الْفَحْـشَاءِ وَالمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا.

“Barangsiapa yang shalatnya tidak bisa mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, maka dia hanya akan semakin bertambah jauh dari Allah.” Namun, sebenarnya penyandaran hadîts ini kepada ucapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu adalah lebih benar. Lihat al-Fatâwâ, (7/30-31), dan ini sangat penting.

29. Hendaknya keyakinan akan terkabulnya do`a tersebut lebih menonjol dalam hatinya. Sebagaimana yang terdapat dalam hadîts Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam , bahwasanya beliau bersabda,


اُدْعُوْا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِاْلإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ.

“Berdo`alah kalian kepada Allah Ta’ala sedangkan kalian merasa yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwasanya AllahTa’ala tidak akan mengabulkan do`a yang bersumber dari hati yang lalai.” (HR. Tirmizi dan al-Hakim).

[Sumber: Dinukil dari kitab Tashhîh ad-Du’â`, karya Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid, edisi bahasa Indonesia: Koreksi Doa dan Zikir, pent. Darul Haq Jakarta]

Komentar