Anakpondok.com - Fudhail bin ‘Iyadh dan ‘Ali bin Fudhail, Kisah Teladan Bagi Orang Tua
Dahulu, Fudhail bin ‘Iyadh adalah seorang penyamun. Lalu Allah
memberi beliau hidayah, maka beliau pun bertobat. Setelah itu, beliau
menghabiskan waktu di Masjidil Haram. Beliau adalah orang yang sangat
saleh, sangat hati-hati memberi nafkah kepada keluarga. Beliau menolak
hadiah-hadiah dari para raja yang mengunjungi beliau karena ragu tentang
kehalalannya. Beliau justru memilih menghidupi keluarga dengan hasil
bekerja mengurusi air di Makkah.
Beliau sangat memerhatikan pendidikan putra beliau, ‘Ali. Pada suatu
hari beliau mengatakan, “Ya Allah, aku telah bersungguh-sungguh untuk
mendidik ‘Ali, tetapi aku tidak mampu melakukannya. Maka dari itu,
didiklah dia untukku.”
Demikianlah, kesalehan orang tua menurun pada sang anak. Sebagaimana
halnya ayahandanya, ‘Ali adalah orang yang saleh. Beliau sangat takut
ketika membaca atau mendengar ayat-ayat Allah tentang azab.
Suatu ketika, ‘Ali shalat di belakang sang ayah. Saat itu, sang ayah
membaca surat at-Takatsur. Tatkala bacaannya sampai pada ayat (yang
artinya) “Sungguh kalian akan benar-benar melihat neraka jahim”, tiba-tiba ‘Ali jatuh karena takutnya.
Dikisahkan pula bahwa beliau tidak sanggup membaca atau mendengar
surat al-Qari’ah. Bahkan, seorang ulama, yaitu al-Khathib, mengatakan
bahwa ‘Ali wafat sebelum sang ayah karena mendengar sebuah ayat. Beliau
takut, lalu meninggal dalam keadaan seperti itu.
Mengenai rasa takut kepada Allah yang sangat besar yang dimiliki oleh
kedua ulama—ayah dan anak—ini, Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan, “Aku
tidak melihat ada orang yang lebih takut (kepada Allah, -pen.) daripada Fudhail dan anaknya.”
Wallahu a’lam bish-shawab.

Komentar
Posting Komentar