Langsung ke konten utama

Akhi.. Karena-Nya kutanggalkan Cintaku

Akhi.. Karena-Nya kutanggalkan Cintaku
Anak Pondok - Siapa sangka Nayla kecil kini telah merasakan jatuh cinta. Cinta yang mungkin sulit sekali ia dapatkan saat kecil, cinta yang amat membuatnya dahaga untuk meneguknya. Cinta yang menjadikannya harus terjerumus dalam kealpaan.

Ya inilah aku. Nayla kecil yang kini telah tumbuh menjadi gadis belia. Bukan karena tidak disayang oleh keluarga, bahkan aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau, itulah yang aku kenal sebagai bentuk cinta. Cinta kasih keluargaku tidak pernah aku rasakan dalam bentuk bathiniyah melainkan hanya dalam bentuk materi dan materi. Bagiku sebuah cinta terealisasi ketika aku menginginkan untuk dibelikan baju, maka ibuku akan membelikannya. Namun, tak pernah kurasakan cinta yang berbentuk perhatian, kasih sayang, belaian lembut, motivasi juga arahan. Bahkan bercerita dari hati ke hati bersama ibupun menjadi sesuatu yang tabu bagiku hingga aku merasakan hati ini seakan kering kerontang. Hingga ketika usiaku mulai beranjak dewasa, diri ini sangat kaku, entah kenapa diri ini seakan berbeda dengan yang lain. Aku tak mengenal yang namanya virus merah jambu, sama sekali tak ada rasa ketertarikan ataupun simpati pada lawan jenis sebagaimana remaja pada umumnya. Bukan tidak bisa, tapi karena memang tak biasa.

Aku adalah remaja putri yang dianugerahi paras yang bisa dibilang cantik. Tak jarang orang yang bertemu denganku mengatakan aku cantik. Bukan aku sombong dengan nikmat yang telah Allah berikan padaku, bahkan aku sangat bersyukur dengan hal itu. Namun, disisi lain aku juga takut kecantikan yang aku miliki akan melalaikan dan menjadi fitnah bagiku.

“Cantik–cantik kok tomboy. Laki-laki mana yang mau sama perempuan tomboy kayak kamu” celetuk salah seorang yang lumayan dekat denganku, maklum dia adalah tetanggaku. Ia memang benar. Aku adalah remaja putri yang tomboy, karena dari gayaku, gerak–gerikku, dan sifatku yang memang lebih kelelakian. Statemen itu menjadi sebuah sambaran petir yang seakan membakarku. Ya Allah, benarkah apa yang dikatakannya? Benarkah tidak akan ada laki–laki yang akan menyukaiku? Walau ungkapan tetanggaku agak sedikit mengguncangku, tapi aku berusaha cuek bebek dan membiarkan ungkapan itu bagai angin lalu.

Semua berawal dari rasa simpatiku. Aku mengenalnya lewat jejaring sosial sebut saja facebook. Aku termasuk dari orang yang tidak mudah jatuh cinta, dan termasuk cukup idealis dalam memilih pasangan. Walau kata orang aku adalah tipe orang yang supel dan mudah akrab dengan orang lain bahkan kepada orang yang belum dikenal sekalipun. Sosok itu bernama Muhammad. “Pasti dia anak pondokan, aku paling ga mau berhubungan dengan anak pondokan. Karena berita yang santer di masyarakat kalau anak pondokan itu pasti kelakuannya lebih parah dari pada anak umum” Sempat terbesit persepsi seperti itu dibenakku. Tapi… dia berbeda. Naluri wanita itu seperti kupu–kupu, semakin didekati semakin menghindar. Jika tidak didekati maka dia akan hinggap dengan sendirinya. Begitu juga dengan yang aku alami, tidak sedikit laki–laki yang mencoba mendekatiku. Namun aku merasa risih dan terusik dengan sikap mereka, malahan itu membuatku semakin enggan untuk jatuh cinta. Tapi berbeda dengan dia. Dia tak pernah mengejarku atau menggodaku sama sekali.

Secara fisik dia bukan laki–laki yang tampan, namun ia memiliki perawakan yang tinggi. Berbeda denganku, aku dikaruniai paras yang cantik namun tinggi badanku standar seperti yang lain. Bagiku wajah bukanlah segalanya, cantik tampan itu relatif. Tapi yang membuatku simpati adalah dia sangat penyayang dan pengertian. Itu semua aku ketahui dari teman–temannya, dia sangat sayang dan perhatian terhadap ibunya. Yang lebih menggemaskan lagi ia juga penyayang binatang, apalagi jika binatang itu sudah dia rawat dari kecil. Selain itu dia juga bukan tipe orang yang suka mengumbar perhatian semaunya, Itulah yang membuatku semakin simpati kepadanya.

Ketahuilah, aku simpati bukan tanpa sebab. Ia menyayangi ibunya berarti ia adalah sosok yang sangat memuliakan wanita, dia menyayangi binatang berarti ia memang sosok lelaki penyayang dan penyabar, itu yang aku tangkap dari pribadinya. Sehingga cintapun tumbuh seiring berjalannya waktu. Saat itu aku gengsi mengatakan cinta, namun hanya sekedar simpati. Dan diapun tidak keberatan dengan apa yang ku utarakan. Walau dapat kupahami dari sikapnya bahwa sebenarnya dia juga memiliki rasa yang sama denganku.

Tiga setengah tahun hubungan kami berlalu. Benar, ia sebagaimana yang aku gambarkan. Sedikitpun ia tak pernah memarahiku bahkan membentakku. Seperti kebanyakan pasangan pada umumnya yang terlalu protektif dan semena–mena terhadap pasangannya, tapi tidak dengannya. Itu yang membuatku bisa setia sejauh ini, karena baru ini kutemui cinta sejati yang tulus dari hati.

Semua berawal dari sini, dia setahun lebih dahulu kuliah dibanding aku. Setahun setelahnya baru aku melanjutkan studiku di bangku kuliah. Aku berharap, kuliahku ini bisa menyetarakan strata kami setelah menikah nanti. Kebetulan kami sama-sama tinggal di asrama, hanya saja diasramaku ada peraturan ketat membawa Hp karena akan mengganggu proses belajar. Dari sini hubungan kami sedikit renggang…

Sebelumnya telah aku jelaskan bagaimana nantinya jika aku di asrama dan terikat dengan adanya peraturan begini dan begitu. Namun, dengan santainya dia hanya berkata, “ya sudah ndak papa kalau memang itu peraturan asrama, di taati saja”. Aku sedikit sebal karena dia tidak memahami perasaanku, karena aku sangat takut sekali kehilangannya. Aku takut jika ada wanita lain yang akan datang dalam hidupnya. Berbagai fikiran gila muncul di otakku. Suatu saat aku tersadar bahwa dia belum seutuhnya milikku, alangkah egoisnya diriku berfikir sejauh itu. Akupun mulai menerima takdirku.

Malam itu, aku mendapat pencerahan dari dosenku yang membahas tentang hal–hal yang berhubungan dengan pacaran. Dosenku tak berkata panjang lebar yang intinya adalah, “Buat ukhtiku yang kusayangi semuanya, alangkah indahnya bila sebuah hati ini tak pernah terisi dengan hadirnya lawan jenis yang menggandrungi hati-hati ukhti sekalian. Beliau hanya berpesan satu, jika ada di antara kalian yang masih menaruh hati pada laki-laki yang belum halal untuk kalian, maka saat ini ambillah tindakan tegas, putuskan mereka sebelum Allah Ta’ala kelak yang akan memutusnya (dalam kata lain, Allah pisahkan kalian dengan cara-Nya).

Diam, terpaku, kaku, lemas perasaanku menjadi satu di malam itu. Ingin aku menjerit sekuat tenaga, tapi aku lemah. Aku hanya bisa menitikkan air mata. Ya Rabb… hatiku teriris mendengar penjelasan beliau. Satu sisi aku menyesali perbuatanku, namun di satu sisi aku tidak ingin kehilangannya. Bagaimana akan kukatakan yang sebenarnya pada dia?

Malam itu aku ingin sekali mengadu kepada Rabbku, mengadukan tentang semua perasaaanku. Ku azzamkan malam itu untuk bangun di sepertiga malam kedua, Alhamdulillah Allah bangunkan aku malam itu. Segera aku mengambil air wudhu lalu kudirikan shalat tahajud kemudian bermunajat pada-Nya. Aku menangis sejadi-jadinya. Malam itu hanya aku yang terbangun sehingga tak ada satupun yang mengetahui tangisanku kala itu. Dalam munajatku aku memohon “Ya Rabb…sungguh indah sekenario-Mu. Engkau tidak pernah sia-siakan hamba-Mu, Engkau tidak pernah membiarkan hamba-Mu terjatuh terlalu jauh. Ya Rabb…dengan jalan aku bisa ada di asrama ini, dan dipertemukan dengan dosen-dosen yang bisa membuka mataku yang telah lama tertidur dalam buaian mimpi indah, itu semua adalah sekenario-Mu. Tapi Ya Rabb…bisakah aku melupakannya? Dan apa yang akan kukatakan padanya?

Aku sangat menyayanginya…di penghujung do’a, kuhaturkan rasa syukur karena Engkau menegurku sedini mungkin sebelum aku benar-benar terbuai lebih jauh lagi.

Mentari pagi itu menyegarkan jasmani dan akal sehatku. Setelah menyelesaikan tahfidz rutinku di pagi hari, tiba-tiba tanpa tersadar air mataku menetes kembali. Terbesit dalam hatiku, “jika tidak sekarang kapan lagi, jika tidak aku siapa lagi”. Sederhana namun penuh arti. Jam 06:30 kutekadkan dalam hati hari ini juga aku akan ambil tindakan tegas, “Kuputuskan dia karena Allah, kuserahkan semuanya pada-Nya. Jika ia memang untukku maka Allah takkan sia-siakan dia.”

Bismillah….sending message dariku berisi “Assalamu’alaikum… Tiada suatu kejadianpun yang tidak tertulis di lauhful mahfudz, tak ada sebuah peristiwa yang datang tiba-tiba. Semua sesuai prosedur skenario-Nya. Dialah Rabbul izzati, Rabbku dan juga Rabbmu. Rasa cinta dan sayang yang ada dihati manusia itu semata-mata atas kehendak dari-Nya. Sebelumnya afwan jika nanti kata-kataku menyakiti hatimu. Bersamamu aku senang, denganmu aku bahagia karena kau selalu berikan yang terbaik untukku. Namun, kusadari cinta kita salah. Cinta yang hadir sebelum kita halal akan mengotori hatimu dan hatiku. Maaf jika aku bersalah, mungkin harus aku akhiri perasaan ini. Bukan karena aku benci padamu ataupun telah ada orang lain di hatiku, tapi yakinlah semua keputusan ini karena-Nya. Aku berkhusnudzan kamu akan menanggapinya dengan sikap dewasa, karena aku memahami dirimu. Wassalamu’alaikum….” kukirimkan sms ini dengan hati yang lega. Aku telah siap menerima resiko yang akan terjadi nanti. Entah dia akan memarahiku, mencelaku ataupun lainnya.

Sms masuk pertanda balasan darinya, “ Wa’alaikumussalam… semenjak aku kenal dirimu, dari dulu aku tak pernah memaksakan kehendakmu, jika memang menurutmu itu yang terbaik maka lakukanlah. Itu yang selalu kukatakan padamu. Jika ini adalah keputusanmu maka aku hanya bisa mendukungmu dari sini. Semoga ini adalah jalan yang terbaik. Pesan terakhirku, baik-baik di sana, jaga pola makan karena segala penyakit bisa tumbuh dari lambung.”

Subhanallah…aku tahu pasti hatinya sangat teriris. Namun ia masih saja bertahan dengan sifat tenangnya. Ku azzamkan semua karena-Mu. Tiada yang mustahil jika kelak diakhir skenario-Mu, Engkau pertemukan diriku dengannya kembali.

Bismillah….. Ya Rabb.. karena-Mu ku tanggalkan cintaku.

“Ya Allah…jika ia benar untukku, dekatkanlah hatinya dengan hatiku….jika dia bukan milikku, tetapkanlah hatiku dengan ketentuan-Mu…..Jika dirinya bukanlah untukku, ridha hatiku dengan ketentuan-Mu, kuharap diriku senantiasa di bawah rahmat-Mu…”



Nayla el-Lampungi

Komentar