Anak Pondok - Wanita Teragung se-jagat Raya yang Menerima Salam dari Allah yang disampaikan dari Lapis Langit ke Tujuh
Khadijah adalah putri Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyyiyah al-Asadiyah. Tumbuh menjadi wanita yang mulia diantara kaumnya di makkah. Ia dijuluki at-Thahiroh (bersih dan suci). Ia dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdas serta memiliki perangai yag luhur. Karena itulah laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya.
Perjalanan Pernikahannya………
Awalnya ia menikah dengan Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi dan dikaruniai dua anak yang bernama Halah dan Hindun. Setelah Abu Halah meninggal, dinikahi oleh Atiq bin A’id bin Abdullah al-Makhzumi namun akhirnya berpisah.
Setelah itu, banyak dari pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan Khadijah, tetapi beliau memprioritaskan perhatiannya mendidik putra putrinya, juga sibuk mengurusi perniagaannya. Ketika beliau mencari orang yang dapat menjual dagagannya, beliau mendengar tentang Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi . Pria yang jujur, amanah, dan berakhlak mulia sehingga dijuluki al-Amin. Khadijah kemudian meminta Muhammad untuk menjadi relasi kerja dengan menjualkan dagangannya bersama seorang pembantunya yang benama Maisaroh.
Khodijah merasa gembira dengan hasil usaha dari Muhammad, akan tetapi ketakjubannya terhadap kepribadian Muhammad lebih besar dan mendalam dan mendalam dari semua itu. maka mulailah muncul perasaan-perasaan dibenaknya, yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya.
Disaat bingung dan gelisah karena perasaan mengganggu hatinyaa, temannya Nafisah binti Munabbih, menyibak rahasia yang yang disembunyikan oleh Khadijah tentang simpati kapada Muhammad. Dengan bantuan Nafisah. Abu Thalib, Hamzah dan lainnya menemui paman Khadijah yang bernama Amr bin Asad untuk melamar Khadijah untuk keponakan mereka, Muhammad. Kemudian menyerahkan maharnya.
Wanita Pertama Masuk Islam….
Kekuatan cinta Khadijah tidak luntur ketika Muhammad mulai menjauh dari manusia dan sering menyendiri di gia Hira sebulan penuh setiap tahunnya. Bahkan,ia juga menyuruh orag-orang untuk menjaga suaminya dari para gangguan, tanpa sepengetahuan suaminya.
Puncaknya, ketika malaikat Jibril turun membawa risalah Ilahiyah pada bula Ramadhan. Muhammad keluar dari gua menuju rumahnya dalam kegelapan fajar dengan badan menggigil. Dalam ketakutan Muhammad, Khadijah membesarkan hati suaminya, “Allah akan menjaga hati kita wahai Abu Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanah hatimu, Demi dan jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh aku berharap agar engkau menjadi Nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakannmu selamanya, sesunggunya engkau telah menyambung silaturrahmi, memikul beban orang yang memerlukan,memuliakan tamu dan menolong para pelaku kebenaran”. Hati Rasulullah pun menjadi tenang dan tentram karena dukungan dan iman dari istrinya.
Khadijah kemudian mendatangi Waraqah bin Naufal, putra pamannya. Setelah menceritakan apa yang terjadi pada suaminya, dengan nada tinggi Waraqah berkata,” Qudus, Qudus, Demi jiwaku ada ditangannya, jik ceritamu benar, sungguh telah datang kepadanya Namus al-Kubra sebagaimana yang telah datang kepada Musa, Isa Dan Nuh secara langsung.” Waraqah kemudian mencium ubun-ubun Rasulullah yang datang seraya berucap, “ sungguh engkau adalah Nabi bagi umat ini, seandainya aku masih menemui hari itu, sungguh aku akan menolong agama Allah.” Tapi tidak beberapa lama Waraqah meninggal.
Keteguhan Mendampingi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam…..
Khadijah mendampingi Nabi yang dicintai dengan menolong, menguatkan dan menbantunya menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman dari kuffar Mekkah, Ia menjadi tempat ketenangan bagi Nabi. Hidupnya dihabiskan untuk tetap mendukung dan membela beliau ketika menyampaikan dakwah Allah. Ia tidak pernah ragu untuk menyiapkan segala bentuk sarana yang dapat menunjang kebahagiaan dan kesenangan beliau. Ia tetap setia mendampingi beliau saat menjalani masa-masa pahit, sehingga pantas jika kemudian menerima ucapan salam dari Allah yang disampaaikan dari tujuh lapis langit. Lebih dari itu, Dia menerima berita gembira akan mendapat rumah di dalam surga yang terbuat dari bambu dan mutiara tanpa terdengar bising maupun menimbulkan kelelahan.
Ketika orang-orang Quraisy menetapkan pemboikotan terhadap kaum muslimin, Khadijah tanpa ragu bergabung dengan kaum muslimin bersama Abu Thalib meninggalkan kampung halaman untuk bertahan selama tiga tahun menghadapi beratnya pemboikotan.
Tahun Duka Cita………
Setelah masa pemboikotan berakhir, kaum muslimin memulai kembali rutinitas yang sempat berhenti. Saat itu, usia dakwah Islam hampir menginjak tahun kesepuluh. Enam bulan setelah berakhirnya pemboikotan, yang mana kaum muslimin baru saja lepas dari penderitaan berat, Nabi Muhammad mendapat musibah besar dengan meninggalnya Abu Thalib dan tidak lama kemudian disusul oleh Khadijah pada bulan Ramadhan, beliau meninggal umur 65 tahun dikubur dijuhun. Dengan wafatnya dua sosok yang selalu menjaga dan melindungi Rasulullah Saw itu kemudian dikenal dengan “Tahun Susah”.
Sejarah mencatat bahwa Khodijah adalah wanita paling agung sejagat raya sekaligus istri dari manusia paling agung sepanjang zaman, sesosok wanita yang cahayanya memancar dengan cemerlang di dalam cakrawala keimanan, kesucian, kehormatan, kemuliaan, kedermawanan, dan kesetiaan. Ia adalah Ummul mukminin istri Rasulullah yang pertama, wanita pertama yang mempercayai risalah Rasulullah, dan wanita yang pertama yang melahirkan putra putri Rasulullah. Ia merelakan harta benda yang dimilikinya untuk kepentingan jihad di jalan Allah yang mana kemuliaan ini tidak dimiliki oleh wanita lain, (Ma'had Aly Putri HR/ anak Pondok)

Komentar
Posting Komentar