Langsung ke konten utama

Rahasia Dibalik Shalat Sunnah Empat Rakaat Setelah Isya

Rahasia Dibalik Shalat Sunnah Empat Rakaat Setelah Isya
Anak Pondok - Rahasia Dibalik Shalat Sunnah Empat Rakaat Setelah Isya

Pertama

Terdapat ketetapan dari Nabi sallallahu alaihi wa salam bahwa beliau shalat setelah isya’ empat rakaat ketika beliau pulang ke rumahnya. Hal itu Terdapat hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata:

" بِتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ بِنْتِ الحَارِثِ زَوْجِ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلم ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا فِي لَيْلَتِهَا ، فَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ العِشَاءَ ، ثُمَّ جَاءَ إِلَى مَنْزِلِهِ ، فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ، ثُمَّ نَامَ ، ثُمَّ قَامَ ، ثُمَّ قَالَ : ( نَامَ الغُلَيِّمُ )، أَوْ كَلِمَةً تُشْبِهُهَا ، ثُمَّ قَامَ ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ ، فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ ، فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍ ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ نَامَ ، حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيطَهُ أَوْ خَطِيطَهُ ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ  (رواه البخاري، رقم 117) .

“Saya menginap di rumah bibiku Maimunah binti Haritsah istri Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Dimana Nabi sallallahu alaihi wa sallam malam itu di rumah beliau. Maka Nabi sallallahu alaihi wa sallam menunaikan shalat isya’ kemudian datang ke rumahnya, dan shalat empat rakaat. Kemudian beliau tidur dan mengatakan, “Anak kecil telah tidur. Atau mengatakan semisal itu, kemudian beliau berdiri (shalat). Kemudian saya berdiri (shalat) disisi kirinya, dan beliau memindahkan sebelah kanannya. Kemudian shalat lima rakaat. Kemudian shalat dua rakaat dan setelah itu tidur. Sampai saya mendengar dengkurannya. Kemudian keluar menunaikan shalat.” (HR. Bukhori, no. 117).


Dari Aisyah radhiallahu anha berkata:

مَا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ قَطُّ فَدَخَلَ عَلَيَّ إِلَّا صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَوْ سِتَّ رَكَعَاتٍ (رواه أبو داود، رقم 1303 وضعفه الألباني في " ضعيف أبي داود – الأم، 2/57) .

“Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam tidak pernah shalat isya’ kemudian masuk ke (rumahku) melainkan beliau shalat empat rakaat atau enam rakaat.” (HR. Abu Daud, no. 1303, dilemahkan oleh Al-Albany dalah Dhaif Abi Daud, Al-Umm, no. 2/57).

Hadits yang semisalnya dari Abdullah bin Zubair berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى الْعِشَاءَ رَكَعَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ، وَأَوْتَرَ بِسَجْدَةٍ ، ثُمَّ نَامَ حَتَّى يُصَلِّيَ بَعْد صَلَاته بِاللَّيْلِ (رواه أحمد في المسند 26/34  طبعة مؤسسة الرسالة ، وضعفه محققو الطبعة لانقطاعه)

“Biasanya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam jika selesai shalat isya’, beliau shalat empat rakaat, dan witir dengan satu rakaat. Kemudian tidur dan shalat setelahnya shalat malam.” (HR. Ahmad di Musnad, (26/34) percetakan Muassasah Ar-Risalaah dan dilemahkan oleh peneliti percetakan karena ada keterputusan (sanad))

Maka sunah amaliyah Nabi sallallahu alaihi wa sallam menunjukkan dianjurkannya shalat empat rakaat setelah shalat isya’. Hal itu telah disepakati para ulama disyariatkannya shalat setelah isya’. Baik hadits tentang keutamaannya itu shahih atau tidak.

Sementara para ahli fikih ulama Hanafiyah berpendapat memasukkan empat rakaat setelah isya’ ini termasuk sunah rowatib ba’diyah. Sebagaimana dalam ‘Fahul Qodir, 1-441-449.

Kedua:

Terdapat keutamaan shalat empat rakaat setelah shalat isya’ lima hadits yang sampai kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam (Marfu) dan sepuluh atsar dari para shahabat, tabiin dari perkataan dan perbuatannya. Ia termasuk banyak sekali haditsnya. Dimana Ibnu Abi SYaibah telah membuat dalam kitab Mushonnafnya bab dengan judul ‘Fi Arbai Rakaat Ba’da Shalatil Isya’ (Empat rakaat setelah shalat Isya’).

Begitu juga yang dilakukan Marwazi dalam kitabnya yang agung ‘Qiyamul lail’ dengan bab ‘Al-Arba Rakaat Ba’da Isya’ Akhirah (Empat rakaat setelah Isya’ terakhir). Begitu juga Baihaqi dalam ‘Sunan Kubro membuat bab dengan judul ‘Bab Man Ja’ala Ba’da Isya’ Arba Rakaat Aktsar (Bab Orang yang menjadikan setelah isya’ empat rakaat atau lebih).

Hadits pertama: dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ ، وَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ قَبْلَ أَنْ يَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ ، كَانَ كَعِدْلِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ (رواه الطبراني في " المعجم الكبير،  13،14 ص/130 ، وفي " المعجم الأوسط، 5/254)

“Siapa yang shalat Isya’ berjamaah, dan shalat empat rakaat sebelum keluar dari masjid. Maka ia setara lailatul qodar.” (HR. Tobroni dalam ‘Mu’jam Al-Kabir, 13,14, hal/130, dalam Mu’jam Al-Ausath, 5/254).

Hadits kedua: dari Ibnu Abbas sampai kepada Rasulullah sallallahu alihi wa sallam beliau bersabda:

من صلى أربع ركعات خلف العشاء الآخرة ، قرأ في الركعتين الأوليين : ( قل يا أيها الكافرون ) و ( قل هو الله أحد ) ، وقرأ في الركعتين الأخريين (تنزيل السجدة) و ( تبارك الذي بيده الملك ) كتبن له كأربع ركعات من ليلة القدر . (رواه المروزي في " قيام الليل " ص/92، والطبراني في " المعجم الكبير، 11/437، والبيهقي في السنن الكبرى ، رقم 2/671)

“Siapa yang shalat empat rakaat setelah shalat isya’ terakir, pada dua rakaat pertama membaca (Qulya Ayyuhal kafirun) dan (Qul Huwallahu Ahad). Sementara pada dua rakaat terakhir membaca (Tanzil Sajdah) dan (Tabarokallazi Biyadihil Mulk) maka dia akan ditulis seperti empat rakaat di malam lailatul Qadar.” )HR. Marwazi di ‘Qiyamul Lail, (hal. 92). Tobroni di Mu’jam Kabir, 11/437, Baihaqi di Sunan Kubra, 2/671).

Hadits Ketiga: Dari Anas radhiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَرْبَعٌ قَبْلَ الظُّهْرِ كَعِدْلِهِنَّ بَعْدَ الْعِشَاءِ ، وَأَرْبَعٌ بَعْدَ الْعِشَاءِ كَعِدْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ (رواه الطبراني في " المعجم الأوسط 3/141)

“Empat rakaat sebelum zuhur seperti setelah isya’. Dan empat rakaat setelah isya’ seperti dari lailatul qadar.” HR. Tobroni di Mu’jam Al-Ausath, (3/141). Dari jalur Yahya bin Uqbah bin Abi ‘Izar dari Muhammad bin Jahadah berkata (Tobroni): Muhammad bin Jahadah tidak meriwayatkan hadits ini kecuali Yahya.”

Hadits keempat: dari Baro’ bin ‘Azib radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ كَأَنَّمَا تَهَجَّدَ بِهِنَّ مِنْ لَيْلَتِهِ ، وَمَنْ صَلَّاهُنَّ بَعْدَ الْعِشَاءِ كُنَّ كَمِثْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ، وَإِذَا لَقِيَ الْمُسْلِمُ الْمُسْلِمَ فَأَخَذَ بِيَدِهِ وَهُمَا صَادِقَانِ لَمْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُمَا (رواه الطبراني في " المعجم الأوسط 6/254)

“Siapa yang shalat empat rakaat sebelum zuhur, seperti dia melakukan tahajud waktu malamnya. Siapa yang shalat (empat rakaat) setelah isya’. Maka ia seperti dalam lailatul qadar. Ketika seorang muslim bertemu dengan muslim lainnya, dan memegang tangannya keduanya berteman. Keduanya tidak berpisah sampai diampuninya.” (HR. Tobroni dalam ‘Mu’jam Ausath, 6/254). Berkata, kami diberitahu Muhammad bin Ali As-Soig, kami diberitahu Said bin Mansur. Kami diberitahu Nahid bin Salim Al-Bahili kami diberitahu Ammar bin Abu Hasyim dari Robi’ bin Luth dari pamannya Baro’ bin ‘Azib radhiallahu anhu.

Hadits kelima: dari Yahya bin Abi Katsir berkata,

أمر النبي صلى الله عليه وسلم أصحابه أن يقرءوا (الم السجدة) ، و (تبارك الذي بيده الملك) فإنهما تعدل كل آية منهما سبعين آية من غيرهما ، ومن قرأهما بعد العشاء الآخرة كانتا له مثلهما في ليلة القدر " (رواه عبد الرزاق في " المصنف " 3/382)

“Nabi sallallahu alaihi wa sallam memerintahkan para shahabatnya membaca (Alif lam mim Sajdah) dan (Tabarokalladzi bi yadihi al-mulk). Keduanyanya menyamai setiap ayatnya tujuh puluh ayat lainnya. Siapa yang membacanya setelah isya’ terakhir, maka keduanya sama seperti di malam lailatul qadar.” (HR. Abdur Rozaq di ‘Mushonnaf, 3/382).


Ketiga:

Sementara atsar yang diriwayatkan dari perkataan para shahabat dan para tabiin yang semakna dengan hadits ini yaitu sebagai berikut:

Atsar pertama: dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu berkata:

مَنْ صَلَّى أَرْبَعًا بَعْدَ الْعِشَاءِ لَا يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِتَسْلِيمٍ، عَدَلْنَ بِمِثْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ (رواه ابن أبي شيبة في " المصنف، 2/127)

“Siapa yang shalat empat rakaat setelah isya’ tidak diputus diantaranya dengan salam. Maka (pahalanya) seperti itu di malam lailatul qadar.” HR. Ibnu Abi Syaibah di ‘Mushanaf, (2/127).

Berkata, kami diberitahukan Waki’ dari Abdul Jabar bin Abbas, dari Qois bin Wahb dari Muroh dari Abdullah. Sanadnya ini bagus dan tersambung.

Atsar kedua: dari Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma berkata:

مَنْ صَلَّى أَرْبَعًا بَعْدَ الْعِشَاءِ كُنَّ كَقَدْرِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ (رواه ابن أبي شيبة في " المصنف، 2/127)

“Siapa yang shalat empat rakaat setelah isya’, hal itu seperti pada lailatul qadar.” (HR. Ibnu Abi Syaibah di Mushonaf, (2/127) berkata, kami diberitahukan Ibnu Idris, dari Hushoin dari Mujahid dari Abdullah bin Amr)

Atsar ketiga: dari Aisyah radhiallahu anha berkata:

" أَرْبَعٌ بَعْدَ الْعِشَاءِ يَعْدِلْنَ بِمِثْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ (رواه ابن أبي شيبة في " المصنف، 2/127)

“Empat (rakaat) setelah isya’ setara (pahalanya) di Malam lailatul qadar.” )HR. Ibnu Abi Syaibah di Mushonaf, 2/172, berkata, “Kami diberitahu Muhammad bin Fushoil dari Ala’ bin Musayyin dari Abdurrahman bin Aswad dari ayahnya dari Aisyah.”

Atsar keempat: dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma berkata:

" مَنْ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بَعْدَ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ قَبْلَ أَنْ يَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ فَإِنَّهُنَّ يَعْدِلْنَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ " (رواه محمد بن الحسن الشيباني – كما في الآثار، 1/292)

“Siapa yang shalat empat rakaat setelah isya’ akhir, sebelum keluar dari masjid. Maka hal itu setara dengan empat rakaat di malam lailatul qadar.” (HR. Muhammad bin Hasan Syaiani sebagaimana dalam atsr, (1/292). Dari syekhnya Imam Abu Hanifah. Kami diberitahukan Harits bin Ziyad atau Muharib bin Ditsar –keraguan dari Muhammad- dari Ibnu Umar)

Atsar kelima: dari Ka’b bin Mati; yaitu Pendeta Ka’ab berkata:

مَنْ صَلَّى أَرْبَعًا بَعْدَ الْعِشَاءِ يُحْسِنُ فِيهِنَّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ عَدَلْنَ مِثْلَهُنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Siapa yang shalat empat rakaat setelah isya’ diperbaiki ruku’ dan sujudnya, maka sama seperti pada malam lailatul qadar.

Atsar keenam:  dari Maisarah dan Zadan berkata:

كَانَ يُصَلِّي مِنَ التَّطَوُّعِ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ ، وَأَرْبَعًا بَعْدَ الْعِشَاءِ ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Beliau biasanya shalat sunah empat rakaat sebelum zuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah marib, empat rakaat setelah isya’ dan dua rakaat sebelum subuh.

Atsar ketujuh: dari Abdurrahman bin Aswad berkata,

" مَنْ صَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بَعْدَ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ عَدَلْنَ بِمِثْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ (رواه ابن أبي شيبة في " المصنف، 2/127)

“Siapa yang shalat empat rakaat setelah isya’ akhir, (pahalanya) seperti di malam lailatul qadar.” (HR. Ibnu Abi Syaibah di ‘Mushonaf, 2/127, dia berkata, kami diberitahukan Fadl bin Dukain, dari Bukair bin Amir dari Abdurrahman)

Atsar kesembilan: dari Qosim bin Abi Ayub berkata:

" كَانَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ يُصَلِّي بَعْدَ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، فَأُكَلِّمُهُ وَأَنَا مَعَهُ فِي الْبَيْتِ فَمَا يُرَاجِعُنِي الْكَلَامَ " (رواه المروزي في " تعظيم قدر الصلاة 1/167)

“Biasanya Said bin Jubair shalat setelah isya’ terakhir empat rakaat, kemudian saya berbicara dengannya sementara saya bersamanya di dalam rumah, kemudian beliau tidak memperhatikan perkataanku.” (HR. Marwazi di ‘Ta’dhim Qodris Shalat)


Keempat:

Kesimpulannya bahwa Terdapat ketetapan dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bahwa dahulu beliau shalat empat rakaat setelah isya’. Sementara hadits yang sampai kepada Nabi terkait dengan keutamaanya semuanya sangat lemah. Yang paling bagus dan paling kuat adalah hadits Ibnu Umar (sedikit) lemahnya.

Sementara atsar yang ada dari para shahabat dan tabiin merupakan dalil, ini termasuk perbuatan ulama salaf dengan sunah ini. Serta menyebarnya dikalangan mereka. Ia termasuk qiyamul lail yang ada keutamaannya dalam Kitab dan Sunah dengan puluhan dalil. Sementara ungkapan ia menyamai shalat pada malam lailatul qadar ini termasuk permasalah yang masih didiamkan. Terutama Terdapat dalam perkataan pendeta Ka’ab. dahulu biasanya Ka’ab terlalu luas dalam memberitahukan terkait dengan syariat ini. Kalau dikiyaskan dengan kitabnya Ahli Kitab. Dikhawatirkan keutamaan ini sumbernya dari Ka’b Al-Ahbar.  Dikalangan para shahabat yang mengambil darinya, sesungguhnya melakukan hal itu karena terkait dengan keutamaan suatu amalan yang diharapkan pahalanya dan tidak merusak amalannya.(islam qa/ anak Pondok)

Wallahu a’lam.

Komentar