Jika kita menengok sejarah periwayatan hadits dan sejarah kehidupan Rasulullah SAW, tentu takkan lepas dari sesosok perempuan yang berilmu, pandai, ahli ibadah, dan memiliki banyak keutamaan, ia adalah perempuan yang langsung dididik oleh Rasulullah SAW, siapakah ia? Ia adalah Aisyah binti Abu Bakar As Siddiq yang merupakan salah seorang istri dari istri-istri Rasulullah SAW, yang insya Allah biografinya akan kita paparkan berikut ini
Nasab dan kelahirannya
Ia bernama Aisyah binti Abu Bakar Abdullah bin Abi Quhafah Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib Al Qurasyi, At Tamimi.[1]
Ummul Mukminin Aisyah ra lahir di Makkah pada tahun ke delapan sebelum hijrah[2], ibunya bernama Ummu Rumman binti Amir bin Uwaimir bin Abdu Syams bin Udzainah bin Suba’ bin Duhman bin Al Harits bin Ghunam bin Malik bin Kinanah Al Kinaniyah.
Pernikahannya
Rasulullah SAW menikahi Ummul Mukminin Aisyah ra ketika Ummul Mukminin Aisyah ra berumur enam atau tujuh tahun, tepatnya dua tahun sebelum hijrah bertepatan dengan tiga tahun setelah meninggalnya Khadijah ra.
Rasulullah SAW baru mencampuri Aisyah ra ketika berada di Madinah sedangkan Aisyah ra ketika itu berumur sembilan tahun, ia merupakan istri Rasulullah saw yang paling muda dan masih gadis ketika dinikahi oleh Rasulullah SAW, dan ketika Rasulullah SAW wafat ia baru berumur delapan belas tahun.
Ummul Mukminin Aisyah ra berkata: “Ketika Khadijah ra wafat, Khowlah binti Hakim bin Al Awqos ketika ia masih berada di Makkah berkata kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak menikah lagi saja?”, Rasulullah berkata: “Dengan siapa aku menikah?”, Khowlah berkata: “Jika engkau mau ada seorang gadis dan jika engkau mau ada juga seorang janda”, Rasulullah SAW berkata: “Yang gadis siapa?”, Khowlah menjawab: “Hamba Allah yang paling mencintai engkau, Aisyah”, Rasulullah berkata: “Terus yang janda siapa?”, Khowlah berkata: “Saudah binti Jam’ah bin Qais, ia telah beriman kepadamu dan mengikutimu”[3].
Rasulullah SAW melamarnya ketika ia berumur tujuh 7 tahun, meskipun ia masih kecil dan mempunyai kecenderungan untuk bermain dan bergurau, akan tetapi ia mempunyai ketajaman kecerdikan dan itulah yang termasyhur darinya.
Sebenarnya ia sudah dilamarkan untuk Jubair bin Muth’im bin Ady, maka tatkala Rasulullah saw melamarnya, sahabat Abu Bakar ra hendak tidak menjawab lamaran Rasulullah SAW hingga ia menanyakannya kembali pada Muth’im, setelah yakin karena islam, maka ia menyetujui lamaran Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW menikahi ‘Aisyah dan Saudah pada waktu yang bersamaan. Hanya saja pada saat itu Rasulullah SAW tidak langsung hidup serumah dengan Ummul Mukminin Aisyah. Setelah kurang lebih tiga tahun hidup serumah dengan Saudah, tepatnya pada bulan Syawal setelah perang Badar, barulah beliau hidup serumah dengan Ummul Mukminin Aisyah ra. Ummul Mukminin Aisyah ra menempati salah satu kamar yang terletak di komplek Masjid Nabawi. yang terbuat dari batu bata dan beratapkan pelepah kurma. Alas tidurnya hanyalah kulit hewan yang diisi rumput kering; alas duduknya berupa tikar; sedang tirai kamarnya terbuat dari bulu hewan. Di rumah yang sederhana itulah Ummul Mukminin Aisyah memulai kehidupan sebagai istri yang kelak akan menjadi perbincangan dalam sejarah.
Pernikahan bagi seorang wanita adalah sesuatu yang utama dan penting. Setelah menikah, seorang wanita akan menjadi istri dan selanjutnya akan menjadi seorang ibu. Kekayaan dunia sebanyak apa pun, kemuliaan setinggi awan, kepandaian yang tak tertandingi, dan jabatan yang begitu tinggi, sekali-kali tidak akan ada artinya bagi seorang wanita jika tidak menikah dan tidak mempunyai suami, sebab tidaklah mungkin bahagia seseorang yang berpaling dari fitrahnya.
Dalam kehidupan berumah tangga, Ummul Mukminin Aisyah merupakan guru bagi setiap wanita di dunia sepanjang masa. Ia adalah sebaik-baik istri dalam bersikap ramah kepada suami, menghibur hatinya, dan menghilangkan derita suami yang berasal dari luar rumah, baik yang disebabkan karena pahitnya kehidupan maupun karena rintangan dan hambatan yarig ditemui ketika menjalankan tugas agama.
Ummul Mukminin Aisyah ra adalah seorang istri yang paling berjiwa mulia, dermawan, dan sabar dalam mengarungi kehidupan bersama Rasulullah SAW yang serba kekurangan, hingga pernah dalam jangka waktu yang lama di dapurnya tidak terlihat adanya api untuk pemanggangan roti atau keperluan masak lainnya. Selama itu mereka hanya makan kurma dan minum air putih.[4]
Keutamaan-keutamaannya
Dari Anas bin Malik berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Keutamaan Ummul Mukminin Aisyah ra atas wanita / istri yang lain seperti keutamaan tsarid (roti yang direndam dalam kuah) atas makanan yang lain”.
Dari Ummul Mukminin ra berkata: “Bahwa sanya Malaikat Jibril kepada Nabi dengan membawa gambar Ummul Mukminin Aisyah ra pada sobekan kain sutera hijau, maka Jibril berkata: “Ini adalah istrimu di dunia dan di akhirat”.
Dia adalah gurunya kaum laki-laki, seorang wanita yang suka kebenaran, putri dari seorang laki-laki yang suka kebenaran, yaitu Khalifah Abu Bakar dari suku Quraisy At-Taimiyyah di Makkah, ibunda kaum mukmin, istri pemimpin seluruh manusia, istri Nabi yang paling dicintai, sekaligus putri dari laki-laki yang paling dicintai Rasulullah SAW[5]
Dari Amr bin Al Ash bahwasanya Rasulullah saw menjadikannya sebagai panglima dalam perang Dzatu As Salasil, ia berkata: “Maka aku mendatanginya dan berkata padanya: “Wahai Rasulullah, siapakah yang paling engkau cintai?”, Ummul Mukminin Aisyah,” dari laki-laki?, Rasulullah berkata: “Bapaknya”[6].
Selain itu Aisyah adalah wanita yang dibersihkan namanya langsung dari atas langit ketujuh, hal ini tampak ketika terjadi peristiwa haditsul ifqi. Dia juga adalah wanita yang telah membuktikan kepada dunia sejak 14 abad yang lalu bahwa seorang wanita memungkinkan untuk lebih pandai daripada kaum laki-laki dalam bidang politik atau strategi perang[7],
Ummul Mukminin Aisyah ra adalah seorang yang banyak beribadah kepada Allah SWT, bertahajud, sholat, dan puasa, ia sangat bersungguh-sungguh dalam berpuasa sehingga bisa dikatakan bahwa ia melakukan puasa dahr (puasa sepanjang tahun), ia tidak berbuka kecuali hanya pada hari raya ideul fitri dan iedul adha.
Ummul Mukminin Aisyah ra juga adalah seorang yang sangat pemalu sekali, sehingga suatu ketika ia memasuki tempat dimana Rasulullah dan Abu Bakar dimakamkan, ia melepaskan pakaian luarnya (dalam tarjamah alquran maksudnya adalah menaggalkan pakaian luar, yang jika pakaian luar tersebut dibuka tidak menampakkan auratnya, ini karena wanita muslimah biasanya dalam memakai pakaian mereka tidak hanya memakai satu lapis pakaian saja, akan tetapi mereka mengenakan beberapa lapis pakaian) dan berkata: “Sesungguhnya ia adalah suamiku, dan ia adalah ayahku”, akan tetapi ketika Umar bin Al Khottob ra juga dimakamkan di tempat tersebut, Ummul Mukminin Aisyah ra tidak lagi melakukan hal tersebut, bahkan ia akan mengikat kuat-kuat pakaiannya karena rasa malunya terhadap Umar bin Al Khottob ra.
Dia adalah putri Abu Bakar As Shiddiq , yang Rasulullah SAW lebih suka memanggilnya “Humaira”. ‘Aisyah binti Abu Bakar Abdullah bin Abi Kuhafah berasal dari keturunan mulia suku Quraisy.[8]
Aisyah adalah sosok wanita yang berwibawa dan cantik. Karenanya Rasul memberi julukan ‘Humaira (yang kemerah-merahan pipinya)’. Aisyah juga dikenal sebagai wanita yang cerdas dan pandai sehingga menjadikannya termasuk al-mukatsirin (orang yang terbanyak meriwayatkan hadis). Muslimah yang wafat pada usia 63 tahun ini telah meriwayatkan hadis dari Rasulullah SAW. sebanyak 2210 hadis. Di antaranya, 297 hadis tersebut dalam kitab shahihain dan yang mencapai derajat muttafaq ‘alaih 174 hadis.[9]
Rasulullah SAW mengisahkan mimpi beliau kepada Ummul Mukminin Aisyah : ”Aku melihatmu dalam mimpiku selama tiga malam, ketika itu datang bersamamu malaikat yang berkata : “Ini adalah istrimu”. Lalu aku singkap tirai yang menyembunyikan wajahmu, lalu aku berkata sesungguhnya hal itu telah ditetapkan di sisi Allah.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Aisyah ra)
Aisyah ra memulai hari-harinya bersama Rasulullah sejak berumur 9 tahun. Mereka mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga yang diliputi suasana Nubuwwah. Rumah kecil yang disamping masjid itu memancarkan kedamaian dan kebahagiaan walaupun tanpa permadani indah dan gemerlap lampu yang hanyalah tikar kulit bersih sabut dan lentera kecil berminyak samin (minyak hewan).[10]
Di rumah kecil itu terpancar pada diri Ummul Mukminin teladan yang baik bagi istri dan ibu karena ketataatannya pada Allah, Rasul, dan Suaminya. Kepandaian dan kecerdasannya dalam mendampingi suaminya, menjadikan Rasulullah SAW sangat mencintainya. Ummul Mukminin Aisyah menghibur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedih, menjaga kehormatan diri dan harta suami tatkala Rasulullah SAW berda’wah di jalan Allah SWT.
Ummul Mukminin Aisyah ra juga melalui hari-harinya dengan siraman ilmu dari Rasulullah SAW, sehingga ribuan hadist beliau hafal.
Ummul Mukminin Aisyah ra juga ahli dalam ilmu faraid (warisan dan ilmu obat-obatan). Urmah bin Jubair putra Asma binti Abu Bakar bertanya kepada Ummul Mukminin Aisyah ra : ”Wahai bibi, dari mana bibi mempelajari ilmu kesehatan?.” Aisyah menjawab :”Ketika aku sakit, orang lain mengobatiku, dan ketika orang lain sakit aku pun mengobatinya dengan sesuatu. Selain itu, aku mendengar dari orang lain, lalu aku menghafalnya.”[11]
Dalam riwayat lain dari A’masy, dari Abu Dhuha dari Masruq, Abud Dhuha berkata: “Kami pernah bertanya kepada Masruq: “Apakah Ummul Mukminin Aisyah juga menguasai ilmu faraidh?” Dia menjawab: “Demi Allah, aku pernah melihat para shahabat Nabi SAW yang senior biasa bertanya kepada Ummul Mukminin Aisyah tentang faraidh. “[12]
Diantara kelebihan beliau yang lainnya, Rasulullah SAW memilih untuk dirawat di rumah Ummul Mukminin Aisyah dalam sakit menjelang wafatnya. Hingga akhirnya Rasulullah wafat di pangkuan Ummul Mukminin Aisyah dan dimakamkan dirumahnya tanpa meninggalkan harta sedikitpun. Ketika itu Ummul Mukminin Aisyah ra berusia 18 tahun. Sepeninggal Rasulullah, Ummul Mukminin Aisyah mengisi hari-harinya dengan mengajarkan Al-Qur’an dan Hadits dibalik hijab bagi kaum laki-laki pada masanya.
Dengan kesederhanaannya, beliau juga menghabiskan hari-harinya dengan ibadah kepada Allah SWT. Kesederhanaan juga nampak ketika kaum muslimin mendapatkan kekayaan dunia, beliau mendapatkan 100.000 dirham. Saat itu beliau berpuasa, tetapi uang itu semua disedekahkan tanpa sisa sedikitpun. Pembantu wanitanya mengingatkan beliau :”Tentunya dengan uang itu anda bisa membeli daging 1 dirham buat berbuka?” Aisyah menjawab : ”Andai kamu mengatakannya tadi, tentu kuperbuat.”
Begitulah beliau yang tidak gelisah dengan kefakiran dan tidak menyalahgunakan kekayaan, kezuhudannya terhadap dunia menambah kemuliaan.[13]
Ummul Mukminin Aisyah ra bukan lulusan perguruan tinggi, dan juga tidak pernah belajar dari para orientalis dan dunia Barat. Ia adalah murid dan alumni madrasah kenabian dan madrasah iman. Sejak kecil Ia sudah diasuh oleh seorang yang paling utama, yaitu ayahnya, Abu Bakar. Ketika menginjak dewasa ia diasuh oleh seorang Nabi dan guru umat manusia, yaitu suaminya sendiri. Rasulullah SAW. Dengan demikian, terkumpullah dalam dirinya ilmu, keutamaan, dan keterangan-keterangan yang menjadi referensi manusia sampai saat ini. Teks hadits-hadits yang diriwayatkannya selalu menjadi bahan kajian di fakultas-fakultas sastra, sebagai kalimat yang begitu tinggi nilai sastranya. Ucapan dan fatwanya selalu menjadi bahan kajian di fakultas-fakultas agama, sedang tindakan-tindakannya menjadi materi penting bagi setiap pengajar mata pelajaran / mata kuliah sejarah bangsa Arab dan Islam.[14]
Pernikahan Rasulullah SAW dengannya merupakan perintah langsung dari Allah SWT setelah wafatnya Khadijah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Aisyah ra, dia berkata: “Rasulullah SAW pernah bersabda: ‘Aku pernah melihat engkau dalam mimpiku tiga hari berturut-turut (sebelum aku menikahimu). Ada malaikat yang datang kepadaku dengan membawa gambarmu yang ditutup dengan secarik kain sutera. Malaikat itu berkata: “Ini adalah istrimu”. Aku pun lalu membuka kain yang menutupi wajahmu. Ketika ternyata wanita tersebut adalah engkau (Aisyah), aku lalu berkata: “Jika mimpi ini benar dari Allah, kelak pasti akan menjadi kenyataan.”[15]
Dia adalah seorang wanita yang tidak disengsarakan oleh kemiskinan dan tidak dilalaikan oleh kekayaan. Ia selalu menjaga kemuliaan dirinya, sehingga dunia dalam pandangannya adalah rendah nilainya. Datang dan perginya dunia tidaklah dihiraukannya.
Dia adalah sebaik-baik istri yang amat memperhatikan dan memanfaatkan pertemuan langsung dengan Rasulullah SAW, sehingga dia menguasai berbagai ilmu dan memiliki kefasihan berbicara yang menjadikan dirinya sebagai guru para shahabat dan sebagai rujukan untuk memahami Hadits, sunnah, dan fiqih. Az-Zuhri berkata: “Seandainya ilmu semua wanita disatukan, lalu dibandingkan dengan ilmu Ummul Mukminin Aisyah, tentulah ilmu Ummul Mukminin Aisyah lebih utama daripada ilmu mereka.”[16]
Hisyam bin Urwah meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata: “Sungguh aku telah banyak belajar dari Aisyah. Belum pernah aku melihat seorang pun yang lebih pandai daripada Aisyah tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah diturunkan, hukum fardhu dan sunnah, syair, permasalahan yang ditanyakan kepadanya, hari-hari yang digunakan di tanah Arab, nasab, hukum, serta pengobatan. Aku bertanya kepadanya: “Wahai bibi, dari manakah engkau mengetahui ilmu pengobatan?” Aisyah menjawab: “Aku sakit, lalu aku diobati dengan sesuatu; ada orang lain sakit juga diobati dengan sesuatu; dan aku juga mendengar orang banyak, sebagian mereka mengobati sebagian yang lain, sehingga aku mengetahui dan menghafalnya”.[17]
Meski tidak dikaruniai keturunan dari Ummul Mukminin Aisyah ra, Rasulullah SAW. sangat mencintainya, Ummul Mukminin Aisyah ra pernah berkata tentang dirinya sendiri, “Saya telah dianugerahi sembilan perkara yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun setelah Maryan binti Imran:[18]
1. Telah datang Jibril (dalam mimpi Rasulullah saw.) dengan gambarku dan menyuruh beliau untuk menikahiku,
2. Rasulullah saw. menikahiku dalam keadaan perawan dan tidak demikian halnya dengan istri Rasul yang lain,
3. Ketika Rasulullah saw. diambil nyawanya, kepala beliau berada di pangkuanku,
4. sayalah yang menguburkan Rasulullah saw di rumahku,
5. Ketika wahyu turun kepada Rasulullah saw, saya turut serta menemaninya di biliknya,
6. Saya adalah putri khalifahnya dan teman kepercayaannya,
7. Telah turun permaafan (udzur) buatku dari langit (dalam peristiwa ‘haditsul ifki’),
8. Saya telah diciptakan dalam keadaan baik (suci) untuk mendampingi orang yang baik dan
9. Saya telah dijanjikan pengampunan dan rizki yang mulia.”
Selain memiliki berbagai macam keutamaan dan kemuliaan, Ummul Mukminin Aisyah ra juga memiliki sifat gampang cemburu. Bahkan dia termasuk istri Nabi Sholallahu ‘alaihi wasallam yang paling besar rasa cemburunya. Rasa cemburu memang termasuk sifat pembawaan seorang wanita. Namun demikian, perasaan cemburu yang ada pada Ummul Mukminin Aisyah ra masih berada dalam batas yang wajar dan selalu mendapat bimbingan dari Nabi, sehingga tidak sampai melampaui batas dan tidak sampai menyakiti istri Nabi SAW yang lain.[19]
Cobaan yang menerpanya
Haditsul ifqi[20]:
Ketika terjadi perang Bani Musthaliq, Ummul Mukminin Aisyah mendapatkan bagian / giliran ikut serta bersama Rasulullah saw pergi berperang, ketika itu ayat hijab sudah turun, setelah selesai perang, disaat perjalanan pulang menuju madinah, rombongan pasukan ini berhenti sejenak untuk istirahat, ketika istirahat Ummul Mukminin Aisyah ra keluar dari kendaraanya dan pergi ke suatu tempat untuk qodhoul hajat, setelah selesai ia kembali menuju tempat peristirahatan pasukan, ternyata sesampainya di sana, ia mendapati bahwa kalung yang ia pakai telah raib dari tangannya, ia pun kembali menuju tempat qodhoul hajahnya karena ia merasa bahwa kalungnya telah terjatuh disana, setelah mendapatkan kalung yang ia cari, Ummul Mukminin Aisyah kembali menuju rombongan pasukan yang sedang beristirahat, tetapi setelah ia sampai rombongan pasukan yang sedang beristirahat tanpa sadar telah pergi meninggalkannya pulang menuju Madinah, kemudian ia hanya duduk diam saja di tempat itu menunggu agar pasukan tadi jika mengetahui bahwa ia tertinggal, maka mereka akan segera mencarinya, namun salah seorang shabat nabi, Sofwan bin Muatthol ra yang bertugas sebagai pasukan penyapu menemukannya, kemudian ia menderumkan untanya disisi Ummul Mukminin Aisyah ra tanpa mengucapkan sepatah katapun, lalu Ummul Mukminin Aisyah ra menaiki unta tersebut sedangkan Shofwan bin Muatthol berjalan kaki menuntun unta tersebut dan mereka kembali ke Madinah.
Sesampainya di Madinah, gembong munafiqin, Abdullah bin Ubay bin Salul yang melihat kejadian tersebut dengan segera mengobral / menyebarkan berita bohong bahwa Ummul Mukminin Aisyah ra telah berselingkuh dengan Sofwan bin Muatthol.
Mendengar hal itu, Ummul Mukminin Aisyah ra setiap harinya selalu menangis terus menerus, hingga air matanya kering karena hal itu.
Satu bulan telah berlalu, namun wahyu dari Allah SWT yang menjelakan atau menerangkan tentang keadaan Ummul Mukminin Aisyah ra belum juga turun, sampai-sampai Rasulullah SAW berkata kepada Ummul Mukminin Aisyah ra: “Wahai Aisyah, telah sampai kepadaku kabar tentang dirimu begini dan begini, jika engkau memang tidak melakukan hal tersebut / tidak bersalah pasti Allah akan membebaskanmu dari kabar tersebut, tapi jika engkau bersalah, maka bertaubatlah kepada Allah SWT, karena jika seorang hamba mengakui dosa yang ia lakukan kemudian ia bertaubat kepada Allah SWT, maka Allah akan menerima taubat hambanya.
Mendengar apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah tersebut, Ummul Mukminin Aisyah ra segera meminta abinya (bapaknya) agar mengatakan sesuatu kepada Rasulullah saw, tapi abinya berkata: “Apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah saw?”, kemudian ia ganti meminta kepada uminya (ibunya), namun uminya juga berkata: “Demi Allah, apa yang harus aku katakan kepada Rasulullah saw?”.
Selang beberapa sa’at kemudian turunlah wahyu yang menerangkan tentang terlepasnya Ummul Mukminin Aisyah ra dan sahabat Sofwan bin Muatthol ra dari berbagai macam fitnah dan tuduhan yang dihembus-hembuskan selama ini.[21]
Rasulullah saw wafat:
Ketika Rasulullah SAW sakit sekembalinya dari haji Wada’ dan merasa bahwa ajalnya sudah dekat, setelah dirasa selesai dalam menunaikan amanat dan menyampaikan risalah, beliau lalu berkeliling kepada istri-istrinya sebagaimana biasa. Pada saat membagi jatah giliran kepada istri-istrinya itu beliau selalu bertanya: “Di mana saya besok? Di mana saya lusa?” Hal ini mengisyaratkan bahwa beliau ingin segera sampai pada hari giliran Ummul Mukminin Aisyah ra. Para istri Nabi yang lain pun bisa mengerti hal itu dan merelakan Nabi untuk tinggal di tempat istri yang mana yang beliau sukai selama sakit, sehingga mereka semuanya berkata: “Ya Rasulullah, kami rela memberikan jatah giliran, kami kepada Aisyah.[22]
Kekasih Allah SWT itu pun pindah ke rumah istri tercintanya. Di sana Aisyah dengan setia menjaga dan merawat beliau. Bahkan saking cintanya, sakit yang diderita Nabi itu rela ‘Aisyah tebus dengan dirinya kalau memang hal itu memungkinkan. Ummul mukminin Aisyah ra berkata: “Aku rela menjadikan diriku, ayahku, dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah.” Tak lama kemudian Rasul pun wafat di atas pangkuan Aisyah.[23]
Ummul Mukminin Aisyah melukiskan detik-detik terakhir dari kehidupan Rasulullah SAW sebagai berikut: “Rasulullah SAW meninggal dunia di rumahku, pada hari giliranku, dan beliau bersandar di dadaku. Sesa’at sebelum beliau wafat, ‘Abdur Rahman bin Abu Bakar (saudaraku) datang menemuiku sambil membawa siwak, kemudian Rasulullah SAW melihat siwak tersebut, sehingga aku mengira bahwa beliau menginginkannya. Siwak itu pun aku minta, lalu kukunyah (supaya halus), kukebutkan, dan kubereskan sebaik-baiknya sehingga siap dipakai. Selanjutnya, siwak itu kuberikan kepada Nabi SAW. Beliau pun bersiwak dengan sebaik-baiknya, sehingga belum pernah aku melihat cara bersiwak beliau sebaik itu. Setelah itu beliau bermaksud memberikannya kembali kepadaku, namun tangan beliau lemas. Aku pun mendo’akan beliau dengan do’a yang biasa diucapkan Jibril untuk beliau dan yang selalu beliau baca bila beliau sedang sakit. (Alloohumma robban naasi… dst.) Akan tetapi, saat itu beliau tidak membaca do’a tersebut, melainkan beliau mengarahkan pandangannya ke atas, lalu membaca do’a: ‘Arrofiiqol a’laa (Ya Allah, kumpulkanlah aku di jannah bersama mereka yang derajatnya paling tinggi: para Nabi, shiddiqin, syuhada’, dan shalihin). Segala puji bagi Allah SWT yang telah menyatukan air liurku dengan air liur beliau pada penghabisan hari beliau di dunia.[24]
Ketika Rasulullah SAW wafat umur Ummul Mukminin Aisyah ra baru delapan belas tahun[25].
Rasulullah SAW dimakamkan di kamar Ummul Mukminin Aisyah ra, tepat di tempat beliau meninggal. Sepeninggal Rasulullah SAW, Ummul Mukminin Aisyah ra banyak menghabiskan waktunya untuk memberikan ta’lim. Baik kepada kaum laki-laki maupun wanita (di rumahnya) dan banyak berperan serta dalam mengukir sejarah Islam sampai wafatnya.
Wafat beliau
Aisyah wafat pada malam Selasa bulan Ramadhan tahun 57 Hijriyah pada usia 66 tahun.[26] Ada juga yang mengatakan bahwa Ummul Mukminin Aisyah ra wafat ketika berumur lima puluh tujuh tahun, akan tetapi ada juga yang mengatakan lima puluh delapan tahun, ia dikuburkan di Baqi’ pada malam hari[27].
Para generasi sepeninggal Aisyah ra selalu mengkaji dan meneliti detail kehidupannya sejak usia 6 tahun, dengan harapan bisa mengambil hikmah dan ibrah dari model tarbiyyah (pendidikan) yang telah membentuk pribadi beliau menjadi figur tunggal yang belum ada duanya sejak empat belas abad silam.
________________________________________
[1] Terjemahan Tarikh khulafa’ hal:29
[2] I’lamun nisa’, juz:3, hal:9
[3] I’lamun nisa’, juz:3
[4] http://kisahislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8:aisyah-binti-abu-bakar-rodhiallahu-anha&catid=11:siroh-istri-rosul&Itemid=83′Aisyah
[5] ibid
[6] Usudul ghobah, juz:1, hal:186-189
[7] http://kisahislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8:aisyah-binti-abu-bakar-rodhiallahu-anha&catid=11:siroh-istri-rosul&Itemid=83′Aisyah
1 http://mumtaz-anas.com/2007/05/29/aisyah-binti-abu-bakar/
(Dikutip dari Majalah Salafy bagian Muslimah, judul asli “Aisyah Radiyallahu ‘anha, Humaira”, Edisi XV/Dzulqa’idah/1417/1997)
[9] http://www.gaulislam.com/aisyah-binti-abu-bakar
[10] http://mumtaz-anas.com/2007/05/29/aisyah-binti-abu-bakar/
(Dikutip dari Majalah Salafy bagian Muslimah, judul asli “Aisyah Radiyallahu ‘anha, Humaira”, Edisi XV/Dzulqa’idah/1417/1997)
[11] ibid
[12] Hadits ini diriwayatkan oleh Darimi dalam As-Sunan II/342, Ibnu Sa’d dalam At-Thabaqat VIII/66, dan Hakim dalam Al-Mustadrak IV/11.
[13] http://mumtaz-anas.com/2007/05/29/aisyah-binti-abu-bakar/
(Dikutip dari Majalah Salafy bagian Muslimah, judul asli “Aisyah Radiyallahu ‘anha, Humaira”, Edisi XV/Dzulqa’idah/1417/1997)
[14] http://kisahislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8:aisyah-binti-abu-bakar-rodhiallahu-anha&catid=11:siroh-istri-rosul&Itemid=83′Aisyah
[15] ibid
[16] Al-Mustadrak IV/11, pembahasan tentang Pengetahuan para shahabat, oleh Al-Hakim; dan Majma’uz Zawaa’id IX/245 oleh Al-Haitsami. Al-Haitsami berkata: “Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dengan rawi yang tepercaya.”
[17] Hilyatul Auliya’ II/49. Riwayat ini memiliki rawi yang tsiqqah.
[18] http://www.gaulislam.com/aisyah-binti-abu-bakar
[19] http://kisahislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8:aisyah-binti-abu-bakar-rodhiallahu-anha&catid=11:siroh-istri-rosul&Itemid=83′Aisyah
[20] I’lamun nisa’, juz:3, hal:9-125
[21] I’lamun nisa’, juz:3
[22] Shahih Muslim, kitab Keutamaan Para Shahabat, bab Keutamaan Aisyah Rodhiallahu ‘anha.
[23] http://kisahislam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8:aisyah-binti-abu-bakar-rodhiallahu-anha&catid=11:siroh-istri-rosul&Itemid=83′Aisyah
[24] Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (Al-Musnad V1/48) dan Hakim (Al-Mustadrak 1V/7). Hakim berkata: “Hadits ini shahih berdasarkan syarat yang ditetapkan Bukhari dan Muslim.” Adz-Dzahabi juga sepakat atas keshahihan Hadits ini.
[25] Usudul ghobah, juz:1, hal:186-189
[26] Al-Istii’aab IV/1885 dan Taariikhut Thabari (Peristiwa-peristiwa pada tahun 58 Hijriyah).
[27] I’lamun nisa’, juz:3, hal:9-125

Komentar
Posting Komentar