Anak Pondok - Seharusnya hari ini adalah hari yang sangat berbahagia. Hari untuk menumpah-ruahkan kegembiraan atas nikmat Allah swt yang agung; kemampuan untuk menjalankan berbagai macam ibadah terutama shiam Ramadhan sebulan penuh.
Ya, hari itu tanggal 1 Syawwal 1432 H, bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 2011. Jam baru menunjukkan pukul 05.25, kala itu saya tengah mempersiapkan khutbah, tiba-tiba terdengar bunyi sms masuk. Sms tadi tak sempat terbaca karena kesibukan mempersiapkan khutbah.
Sepulang dari sholat ied, saya membaca sms tadi. Bukan sms tahanni’ah (selamat), tetapi berita duka yang sangat mengharukan. “Innalillahi wa Innalillahi Roji’un Ustadz Kita, Abdussalam telah meninggal dunia pagi ini, semoga Allah mengampuni beliau dan melimpahkan rahmatNya kepada ustadz kita ini.” Bunyi sms itu.
Seakan tak percaya, saya membaca sms itu berulang-ulang, tapi tetap saja hati ini belum percaya seratus persen. Untuk meyakin kebenaran berita ini, saya menelepon teman yang mengirim sms tersebut. Dan memang sang ustadz pondok yang murah senyum itu telah meninggal dunia yang fana ini.
Tak Disangka
Kematian itu begitu mendadak. Allah telah mengabarkan bahwa sifat al-maut adalah mendadak.
“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (Q.s. al-An’am: 44)
Dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa kematian adalah sebuah kepastian dan ditakuti jiwa,
وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.”(Q.s Qaf: 19)
Karena sifatnya mendadak, hadir tanpa disadari oleh tiap makhluk yang bernyawa, Rasulullah saw mengingatkan ummatnya untuk memperbanyak mengingat kematian. Beliau saw bersabda,
“Perbanyaklah kalian mengingat penghancur kenikmatan (kematian).” (HR. Ibnu Majah)
Dzikrul Maut
Selain melembutkan hati, dan menumbuhkan rasa takut kepada Allah swt banyak manfaat dari mengingat kematian, diantaranya menjadikan seorang hamba tidak lalai dari dosa-dosanya, senantiasa bersemangat menjalankan ibadah. Karena, yang terlintas dalam pikirannya adalah kematian, kesengsaraan sakaratul maut, kuburan, kiamat, dan pembagian catatan amal.
Pernah Khalifah Umar bin Abdul Aziz rhm menangis pilu, suaranya sangat menyedihkan, membuat istrinya Fathimah ikut menangis, dan orang-orang di sekitar merekapun ikut menangis, tanpa mengetahui sebabnya.
Saat tangisan Umar mereda, sang istri bertanya kepada beliau, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, “Aku teringat ketika orang-orang beranjak dari hadapan Allah; satu kelompok ke Surga, dan yang lainnya ke Neraka.” Tiba-tiba beliau berteriak histeris lalu pingsan.
Perjalanan menuju kematian sangat mengerikan dan mendebarkan. Mengingat tentang itu, menjadikan rasa takut kepada Allah swt meningkat drastis, membangkitkan keinginan untuk selalu beribadah.
Suatu ketika, Bisyr bin Mansur melihat Atho’ As-Sulami, ulama tabi’in terkemuka, bermuram durja. Kesedihan nampak dari wajahnya. Ia pun memberanikan diri bertanya, “Wahai Atho’ apa yang membuatmu sedih?” Tanyanya.
Atho’ menjawab, “Kematian siap menjemputku, kuburan akan menjadi rumahku. Di hari kiamat aku berdiri menghadap, diatas nerakan jahannam aku berjalan meniti shiroth, dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat oleh rabbku kepadaku.” Kemudian menghela nafas panjang lalu dan tak sadarkan diri.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah saw menjelaskan manfaat dzikrul maut,
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ الَّلذَاتِ فَمَا ذَكَرَهُ عَبْدٌ قَطٌّ وَهُوَ فِيْ ضَيْقٍ إِلَّا وَسَّعَهُ عَلَيْهِ وَلَا ذَكَرَهُ وَهُوَ فِيْ سَعَةٍ إِلَّا ضَيَّقَهُ عَلَيْهِ
“Perbanyaklah kalian mengingat penghancur kenikmatan (kematian), jika seorang mengingatnya di saat menghadapi kesulitan maka perkaranya akan dipermudah, dan jika ia mengingatnya tatkala foya-foya, maka ia akan merasa sempit.” (HR. Ibnu Hibban, Syaik Su’aib al-Arna’uth berkata, sanad hadits ini hasan.)
Teladan Salaf
Diantara cara Rasulullah saw mengajarkan ummatnya untuk selalu mengingat kematian, beliau memerintahkan mereka untuk memperbanyak ziarah kubur. Beliau saw bersabda,
إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ ثَلاَثٍ ، ثُمَّ بَدَا لِي فِيهِنَّ : نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ ، ثُمَّ بَدَا أَنَّهُ يُرِقُّ الْقَلْبَ وَيُدْمِعُ الْعَيْنَ ، وَيُذَكِّرُ الآخِرَةَ ، فَزُورُوهَا
“Dulu aku pernah melarang kalian dari tiga hal, namun sekarang aku melihat hal lain, ternyata ketiganya ada manfaatnya; dulu aku pernah melarang kalian untuk menziarahi kuburan, namun aku lihat menziarahi kuburan mampu melembutkan hati, meneteskan air mata, dan mengingatkan tentang akherat. Maka ziarahilah kuburan.” (HR. Ahmad)
Dalam sebuah riwayat disebutkan, seorang ulama tabi’in, ahli ibadah, dan zuhud, Maimun bin Mahran menggali lubang kuburan di rumahnya. Setiap malam beliau masuk dalam kuburan itu dan menangis serta membaca al Qur’an. Tatkala keluar dari kuburan itu, beliau berkata kepada dirinya, “Wahai Maimun kamu sekarang kembali ke dunia, maka kerjakanlah amal soleh selalu.”
Para ulama salaf selalu menjadikan dzikrul maut sebagai aktifitas hariannya. Mengingat akherat menjadikan air mata mereka selalu menetes, dan menangisi diri tersedu-sedu. Abu Maryam menceritakan, ‘Aku berkata kepada Abu Abdillah al-Barrani, berapa kali Anda menangis? Berapa kali tangisan seperti ini?’ Maka ia mengulurkan tangannya kepadaku, di ujung jarinya ada sehelai rambut yang tergulung kemudian ia mengurainya seraya berkata, ‘Kalau perumpamaan shirath seperti ini maka telapak kaki mana yang mampu tegak di atasnya?’ Lalu ia menangis lagi.
Demikianlah sekelumit gambaran ulama salaf dalam mengingat kematian. Berbeda dengan kebanyakan umat Islam bahkan para aktifis yang lebih sering mengingat bisnis, keluarga, dan cita-cita duniawinya dari pada mengingat kematian. (An-Najah/ Anak Pondok)

Komentar
Posting Komentar